artikel

PEMBAHASAN
ETIKA BISNIS ISLAMI

A. Pendahuluan

Etika merupakan pengkajian soal moralitas atau terhadap nilai tindakan moral, istilah ini juga digunakan menunjukan sistem atau kode etik yang dianut. Etika dalam Islam lebih dikenal dengan akhlak (budi pekerti atau kelakuan), kata akhlak dalam al-Qur’a>n ditemukan bentuk tunggalnya dalam surah al-Qalam ayat 4, yang berbunyi:
وانك لعلى خلق عظيم

Sesugguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung (QS. Al-Qalam (68): 4)

Kata akhlak juga ditemukan dalam hadis-hadis Nabi, yang paling popular adalah,
انما بعثت لأ تمم مكارم الأخلاق
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Pengertian tersebut menjelaskan bahwa akhlak (etika) manusia sangatlah beragam, antara lain adalah nilai kalakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk. Sedangkan bisnis adalah sebagai pertukaran barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat, menurut Anoraga dan Soegiastuti bisnis memiliki ma’na dasar sebagai “the Buying and selling of goods and services”, dalam realitasnya, baik bisnis sebagai aktivitas maupun sebagai entitas, telah ada dalam sistem dan strukturnya yang baku. Bisnis berjalan sebagai proses yang menjadi kegiatan manusia sabagai individu atau masyarakat yang dilakukan sejak bangun pagi hingga tidur kembali, hal ini bertujuan untuk mencari keuntungan dan memenuhi keinginan serta kebutuhan hidup.
Realitas yang ada, etika dan bisnis dipahami sebagai dua hal yang terpisah bahkan tidak ada kaitannya. Jika ada korelasinya dipandang sebagai hubungan negatif, dimana praktek bisnis merupakan kegiatan yang bertujuan mencapai laba sebesar-besarnya dalam situasi persaingan bebas. Apabila etika diterapkan diterapkan dalam dunia bisnis dianggap akan mengganggu upaya pencapaian bisnis tersebut. Sehingga memunculkan beberapa gagasan untuk mewujudkan etika bisnis secara Islami.
Bisnis Islami dapat diartikan sebagai serangkaian aktifitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan hartanya (aturan halal dan haram). Etika bisnis secara Islami menurut al-Qur’a>n selanjutnya dijelaskan dalam sub bab berikutnya secara detail. Dengan menggunakan kata kunci sebagai berikut:
Terma-terma yang berkaitan dengan bisnis maupun etika, diantaranya adalah:
No. Kata Kunci Surat Ayat Keterangan
1. البيع Al-Baqarah, al-Jumu’ah 275, 9 Jual-Beli
2. عن تراض al-Baqarah; an-Nisa>‘ 233; 29 Suka sama suka (kerelaan keduanya)
3. تجارة Al-Baqarah, An-Nisa>‘, al-Fa>t}ir, as-S{a>f, dan al-Jumu’ah 282; 29; 29 10; 11 Perdagangan atau Perniagaan
4. اشترى At-Taubah 111 Membeli
5. تداينتم Al-Baqarah 282 Bermu’amalah
Terma-terma yang berkaitan dengan kejujuran dan keadilan dalam etika bisnis Islami.
No. Kata Kunci Surat Ayat Keterangan
1. بالقسط Ali ‘Imra>n; an-Nisa>‘; al-Ma’idah; al-An’a>m; al-A’ra>f; Yu>nus; Hu>d; al-Rah}ma>n; al-Hadi>d. 18,21; 127, 135; 8,42; 152; 29; 4, 47, 54; 85; 9; 25 Berbuat adil, menegakkan keadilan
2. تقسطوا An-Nisa>‘; al-Mumtah}anah 3; 8 Berlaku adil
3. أقسط Al-Baqarah; al-Ah}za>b 282; 5 Lebih adil
4. أقسطوا Al-H{ujura>t 9 Berlaku adillah
5. القاسطون Al-Ji>n 14&15 Menyimpang dari kebenaran
6. القسط Al-Anbiya>’ 47 Tepat
7. المقسطين Al-Ma’idah; al-H{ujura>t; al-Mumtah}anah 42; 9; 8 Orang-orang yang adil
8. بالقسطاس Al-Isyra>’; as-Syu’ara>’ 35; 182 Dengan benar
9. بالعدل Al-Baqarah; an-Nisa>‘; an-Nah}l; al-H{ujura>t 282; 58; 76, 90; 9 Dengan adil/ Benar
10. وعدلا Al-An’a>m 115 Benar/adil
11. فاعدلوا Al-An’a>m 152 Berlaku adil
12. اعدلوا Al-Ma’idah 8 Berlaku adillah
13. فعدلك Al-Infit}a>r 7 Seimbang
14. لأعدل Ash-Shu>ra 15 Berlaku adil
15. تعدل Al-An’a>m 70 Menebus
16. ألا تعدل An-Nisa>‘; al-Ma’idah 3; 8 Takut tidak bisa berlaku adil
17. ان تعدلوا An-Nisa>‘ 129, 135 Tidak bisa berlaku adil
18. يعدلون Al-An’a>m 150 Mempersekutukan Tuhan
19. به يعدلون Al-A’ra>f 159, 181 Menjalankan keadilan
20. قوم يعدلون An-Naml 60 Menyimpang dari kebenaran
21. منهاعدل Al-Baqarah 48, 123 Tebusan
22. دواعدل Al-Ma’idah 95, 106 Seimbang
23. أو عدل ذلك Al-Ma’idah 95 Seimbang
24. كل عدل Al-An’a>m 70 Segala macam tebusan
25. دوي عدل At-T{alaq 2 Yang adil
Terma-terma yang berkaitan dengan timbangan dan takaran.
No. Kata Kunci Surat Ayat Keterangan
1. كالوهم Al-Mut}affifi>n 3 Menakar
2. كلتم Al-Isra>’ 35 Menakar
3. اكتالوا Al-Mut}affifi>n 2 Menerima takaran
4. نكتل Yu>suf 63 Sukatan
5. أوفواالكيل Al-An’a>m; al-A’ra>f; Hu>d; asy-Syu’ara>’ 152; 85; 35; 181 Sempurnakan takaran
6. أوف الكيل Yu>suf 59 Menyempurnakan takaran
7. مناالكيل Yu>suf 63 Bekal (gandum)
8. لناالكيل Yu>suf 88 Sempurnakan bekal makanan
9. فلا كيل Yu>suf 60 Bekal
10. كيل بعير Yu>suf 65 Tambahan bekal seberat onta
11. كيل يسير Yu>suf 65 Bekal yang yang mudah
12. المكيال Hu>d 84; 85 Takaran
13. وزنوهم Al-Mut}affifi>n 3 Menimbang
14. وزنوا Al-Isra>’; ash-Shu’ara>’ 35; 182 Timbanglah
15. الوزن Al-A’ra>f; ar-Rah}ma>n 8; 9 Timbangan
16. وزنا Al-Kahfi 105 Penilaian
17. موزون Al-Hijr 19 Ukuran
18. الميزان Al-An’a>m; al-A’ra>f 152; 85 Timbangan
19. الميزان Hu>d 84, 85 Timbangan
20. الميزان Ash-Shu’ara>’ 17 Neraca
21. الميزان Ar-Rahman 7, 8, dan 9 Neraca (keadialan)
22. الميزان Al-Hadi>d 25 Neraca (keadialan)
23. الموازين Al-Anbiya>’ 47 Timbangan
24. موازينه Al-A’ra>f; al-Mu’minu>n; al-Qa>ri’ah 8, 9; 102, 103; 6 & 8. Timbangan

B. Kumpulan Ayat-Ayat Etika Bisnis

1. Ayat Makiyah

Artinya: dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang bermanfaat, hingga ia sampai dewasa dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya dan apabilah kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu, agar kamu ingat. (al-An’a>m: 152)

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang yang merugikan (as-Syu’ara’: 181)

Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. (as-Syu’ara’:182)

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (as-Syu’ara’:182)

2. Ayat Madaniyah

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. (al-Mutaffifin: 1-3)
Hai orang-orang beriman, jangalah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. (al-Nisa’: 29)

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Hasyr: 18)
Supaya kamu jangan melampui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (al-Rahman: 8&9)

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jum’at, maka segeralah menuju zikrullah, dan tinggalkanlah jual beli. Itulah yang baik buat kamu, jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka berteberanlah di muka bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka berbondong-bondong padanya dan meninggalkanmu berdiri. Katakanlah apa yang ada disisi Allah lebih baik dari pada permainan dan perniagaan, dan Allah adalah sebaik-baik pemberi. (Q. S. Al-Jumu’ah : 9-11).

C. Munasabah

Surah ash-Shu’ara>’ ayat 181-183 berkaitan dengan ayat sebelumnya 176-180,

Artinya : Penduduk Aikah telah mendustakan Rasul-Rasul, ketika Shu’aib berkata kepada mereka: “mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan yang diutus kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku dan aku sekali-kali tidak memintak upah kepadamu atas ajakan itu ; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Ayat tersebut menjelaskan tentang kaum Nabi Shu’aib, yaitu kaum Madyan atau Aikah mereka merupakan kaum yang hidup di alam rimba, banyak pohon, tanaman, dan buah-buah-buahan yang subur, mereka telah berbuat curang dalam menimbang dan menakar dangan cara menguranginya, di samping itu mereka telah melakukan kerusakan di muka bumi ini, karena perbuatan mereka yang telah melanggar norma Agama, Nabi Shu’aib memberikan nasihat kepadanya agar tidak melanggar norma Agama, akan tetapi mereka telah berbohong kepada Nabi Shu’aib, kemudian Allah memberikan kerusakan dan siksa pada kaum-Nya.
Surah al-An’a>m ayat 152, berhubugan dengan ayat sebelumnya yang menyebutkan wasiat Allah, yang merupakan larangan mutlak. Ayat ini melanjutkan larangan yang berkaitan dengan harta, setelah sebelumnya pada larangan sebelumnya disebut tentang nyawa. Larangan dalam ayat ini menyangkut harta dimulai dengan larangan mendekati harta kaum lemah, yakni anak-anak yatim. Larangan ini tidak sekedar melarang memakan atau menggunakan, tetapi juga mendakati. Di samping itu juga yang dianjurkan dalam ayat ini adalah menyempurnakan takaran dan timbangan bil qist} yakni dengan adil, sehingga keduanya merasa senang.
Surah al-Mut}affifi>n ayat 1 sampai ayat 3 itu saling berhubungan, yaitu ayat pertama memberikan ancaman bagi mereka yang telah melakukan berbuat kecurangan dalam bisnis yaitu mengurangi timbangan pada waktu menimbang untuk orang lain. Sedangkan ketika mereka meminta timbangan untuk dirinya sendiri mereka minta dipenuhi. Mereka yang berbuat curang dalam timbangan tersebut akan dimasukkan dalam neraka wail.
Surah an-Nisa>‘ayat 29, yaitu larangan memakan harta dengan jalan yang batil (yang dilarang oleh Allah), kemudian Allah memberikan jalan mencari harta yang halal dengan cara melakukan perniagaan. Ia memberikan jalan mencari harta dengan perniagaan, ada norma-norma yang harus dilakukan yaitu dengan suka sama suka (kerelaan kedua belah pihak). Sedangkan surah ar-Rahman ayat 8 dan 9 sangat berkaitan antara keduanya, ayat ke-8 mengatakan supaya tidak melampui batas dalam melakukan timbangan, kemudian Allah memerintahkan untuk menegakkan keadilan dalam melakukan bisnis dengan adil dan dilarang untuk berbuat curang dengan mengurangi timbangan.

D. Sebab Nuzul

Pada saat Rasulullah saw, masuk ke kota Madinah, beliau mengetahui penduduknya terdiri dari orang-orang yang curang dalam menggunakan takaran dan timbangan, karena itu Allah SWT, menurunkan surah al-Mut}affifi>n sebagai ancaman terhadap mereka, setelah turunnya ayat-ayat tersebut orang madinah menjadi orang yang jujur dalam jual beli.
Menurut Imam al-Qurt}uby, Madina merupakan tempat pedagang yang mengurangi timbangan pada waktu itu, mereka menjual muna>badah, mula>masah, dan mukha>d}arah, kemudian Allah menurunkan ayat Mut}affifi>n, setelah itu Rasulullah SAW, berangkat ke pasar dan membacakan ayat tersebut.

E. Tafsir Ayat Etika Bisnis Islami

Menurut prespektif al-Qur’a>n, tanggung jawab individual sangat penting dalam sebuah transaksi bisnis. Setiap individu bertanggungjawab terhadap semua transaksi yang telah dilakukannya. Tidak seorang pun yang memiliki previlage tertentu atau imunitas untuk menghadapi konsekuensi terhadap apa yang dilakukannya, Abu A’la al-Maududi menyatakan bahwa individulah yang paling penting bukan komunitas masyarakat atau Negara, di dalam al-Qur’a>n, hal tersebut merupakan alat pencegah terhadap terjadinya tindakan yang tidak bertanggung jawab, karena setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya baik di dunia maupun di akhirat. Allah menjelaskan dalam surah al-Jumu’ah ayat 9 mengenai perlunya suatu etika dalam melakukan bisnis yang Islami, yang berbunyi :
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jum’at, maka segeralah menuju zikrullah, dan tinggalkanlah jual beli. Itulah yang baik buat kamu, jika kamu mengetahui

Al-Qur’a>n memperbolehkan melakukan bisnis yang halal, akan tetapi jika dikaitkan dengan ayat tersebut kita tidak boleh lupa untuk berbisnis dengan Allah, yaitu melaksanakan perintahnya untuk beribadah Shalat Jum’at, sehingga segala macam interaksi dalam bentuk apapun yang bisa mempengaruhi perhatian shalat Jum’at harap untuk ditinggalkan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara iman dan bisnis bagaikan hubungan akar tumbuhan dengan buahnya. Bahkan ditegaskan al-Qur’a>n, amal-amal yang tidak disertai iman tidak akan berarti di sisi-Nya (bagaikan debu yang berterbangan) وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا).
Untuk menghilangkan kesan bahwa perintah ini dilaksanakan seharian penuh. Sebagaimana yang diwajibkan kepada orang-orang Yahudi pada hari Sabtu. Kemudian Allah melanjutkan dengan ayat selanjutnya;
Apabila telah ditunaikan shalat, maka berteberanlah di muka bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezeki bukan hanya yang mencukupi kebutuhannya, tetapi al-Qur’a>n memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkan dengan fad}l Allah, yang secara harfiah berarti kelebihan yang bersumber dari Allah. Kelebihan tersebut dimaksudkan antara lain agar yang memperoleh dapat melakukan ibadah secara sempurna serta mengulurkan tangan bantuan kepada pihak lain yang oleh karena mereka tidak berkecukupan. Dan ingatlah Allah banyak-banyak dengan selalu bersyukur, jangan sampai kesungguhan kamu mencari karunia-Nya itu melengahkanmu. Berzikirlah (dengan mengucapkan tah}mi>d, tasbi>h, takbi>r, dan istigfar) dari saat ke saat dan di setiap tempat dengan hati atau bersama lidah kamu supaya kamu beruntung memperoleh apa yang kemu dambakan.
Larangan melakukan jual beli, dipahami oleh Imam Ma>lik mengandung makna batalnya serta keharusan membatalkan jual beli jika dilakukan pada saat Imam berkhutbah dan shalat. Sedangkan Imam Syafi’i>y tidak memahaminya demikian, akan tetapi menegaskan keharaman jual beli tersebut. Dengan demikain perintah bertebaran di bumi dan mencari sebagian karunianya pada ayat di atas bukanlah perintah wajib. Kaidah ulama dinyatakan apabilah ada perintah yang bersifat wajib, kamudian dilanjutkan dengan perintah sesudahnya, maka yang kedua itu hanya mengisyaratkan bolehnya hal tersebut dilakukan. Ayat 9 memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menghadiri upacara Shalat Jum’at, perintah yang bersifat wajib. Ayat diatas memerintahkan kaum muslimin untuk menghadiri shalat Jum’at. Tetapi ada sekelompok orang yang tidak memenuhi secara baik perintah tersebut, dan Allah telah mengecam perbuatan mereka, dalam ayat selanjutnya :
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka berbondong-bondong padanya dan meninggalkanmu berdiri. Katakanlah apa yang ada disisi Allah lebih baik dari pada permainan dan perniagaan, dan Allah adalah sebaik-baik pemberi.

Ayat tersebut menjelaskan sikap sahabat Nabi SAW, yaitu Dihyat Ibn Khalifah al-Kalbi yang datang bersama kafilahnya dari Syam, mereka membawa kebutuhan pokok. Ketika itu harga-harga di Madinah melonjak. Genderang tanda kedatangan kafilah di pasar pun ditabu, sehingga terdengar oleh Jama’at Jum’at. Ketika itulah sebagian jama’ah masjid berpencar dan berlarian menuju pasar untuk membeli karena takut kehabisan. Kemudian turunlah ayat ini, ada riwayat yang mengatakan bahwa kejadian tersebut terulang sampai tiga kali dan selalu di hari jum’at. Riwayat berbeda-beda tentang jumlahnya yang bertahan bersama Rasulullah, ada yang mengatakan empat puluh, empat, tiga, atau dua belas orang, bahkan ada riwayat yang mengatakan hanya delapan orang. Perbedaan riwayat inilah yang menjadikan sebab perbedaan ulama tentang jumlah minimal yang harus hadir guna sahnya upacara shalat Jum’at.
Jama’ah yang meninggalkan shalat jum’at pada waktu Nabi menyampaikan khutbah, ada sebagian orang yang bertahan bersama Rasulullah, kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah, ‘apakah perbuatan yang mereka lakukan itu salah (Jam’ah yang meninggalkan Khutbah), kemudian Nabi berkata, “apa yang disisi Allah berupa ganjaran dan anugerah-Nya di dunia dan di akhirat bagi yang tidak tergiur oleh gemerlap duniawi lebih baik dari pada permainan dan perniagaan walau sebanyak apapun dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki karena Allah sumber rezeki. Sedang selain-Nya hanyalah perantara. Allah memberikan rezeki terhadap orang yang bertawakkal, dan orang yang mencari rezeki pada waktu shalat jum’at (kafilah). Serta tidak diharamkan seseorang yang mencari rezeki pada waktu shalat jum’at atau pun mengurangi rezekinya karena sebab meninggalkan shalat.”
Kewajiban dalam melakukan bisnis perlu adanya suatu etika, yang paling utama adalah kepada Allah SWT, yaitu melaksanakan perintahnya seperti apa yang dijelaskan dalam Surah al-Jumu’ah tersebut. Di samping itu perlu diperhatikan juga adalah etika berbisnis dengan manusia. Dalam jual beli manusia harus melaksanakan etikanya, yaitu harus memperhatikan keadilan dalam melakukan transaksi, Allah menjelaskan dalam surah al-Syu’ara>’ ayat 181-183, yang berbunyi ;
Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang yang merugikan. Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan (as-Syu’ara>’: 181-183)

Dan Surah Hu>d ayat: 85, yang berbunyi,
Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kalian merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kalian membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Ayat tersebut menjelaskan antara Nabi Shu’aib dengan kaumnya. Pada awalnya Nabi Shu’aib melarang mengurangi timbangan dan takaran bila mereka memberikan hak orang lain, kemudian Nabi Shu’aib memerintahkan untuk menyempurnakan timbangan dan takaran secara adil, baik disaat mereka mengambil maupun memberi. Setelah Nabi Shu’aib menasihati kaumnya, mereka seakan-akan bertanya:” apakah yang harus kami lakukan?” beliau menjawab: “sempurnakanlah takaran dan yang ditakar bila kalian menakar untuk orang lain, sebagaimana kamu menakar untuk diri kamu sendiri, dan janganlah kamu termasuk salah seorang anggota kelompok yang dikenal luas sebagai orang-orang yang merugikan diri sendiri akibat merugikan orang lain, di samping itu timbanglah untuk diri kamu dan orang lain dengan timbangan yang lurus. Janganlah kalian merugikan manusia pada barang-barangnya (yakni hak-haknya dengan mengurangi kadar atau nilainya) dan janganlah kalian membuat kejahatan di bumi menjadi perusak dalam bentuk apapun sesudah perbaikannya yang dilakukan Allah atau juga oleh manusia. Dan bertakwalah kepada Allah, karena Dia yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang terdahulu yang begitu kokoh dan kuat. Namun mereka pun disiksa dan dipunahkan ketika mereka melanggar perintah-Nya.
Ayat 181 menjelaskan perintah menjual dengan cara menyempurnakan timbangan dan takaran dengan tidak mengurangi hak-hak manusia yang lainnya. Menurut Imam al-Qurt}uby yaitu tidak mengurangi timbangan dan takaran. Akan tetapi dalam melakukan bisnis orang harus melakukannya dengan adil seperti yang tertera dalam surah ash-Shu’ara>’ ayat 182, yaitu apabila sesorang membeli janganlah menambahkan ataupun mengurangi timbangan dan takarannya seperti pada waktu dia akan menjualnya.
Kata تبخسوا terambil dari kata بخس yang berarti kekurangan akibat kecurangan. Ibn ‘Araby mendefinisikan dengan pengurangan dalam bentuk mencela, atau memperburuk sehingga tidak disenangi, penipuan dalam nilai atau kecurangan dalam timbangan dan takaran dengan melebihkan atau mengurangi. Kata القسطاس ada yang memahami dalam arti neraca atau timbangan ada juga dalam arti adil. Kata ini adalah salah satu kata asing dari bahasa Romawi, yang terambil dari kata ديقاس , kemudian dalam bahasa arab diganti dengan sin, sebagian pendapat yang lain diganti dengan huruf shad menjadi قصطاس . Sedangkan kata تعثوا terambil dari kata عثى dan عاث yaitu perusakan atau bersegera melakukannya. Maksud kata ini adalah jangan melakukan kerusakan dengan sengaja. Untuk mewujudkan suatu keadilan dalam melakukan bisnis al-Qur’a>n memberikan jalan untuk melakukannya dengan semampunya tanpa adanya suatu beban, seperti yang dijelaskan dalam surah al-An’a>m ayat 152, yang berbunyi:

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.

Ayat di atas menggunakan bentuk perintah bukan larangan menyangkut takaran dan timbangan واوفواالكيل والميزان بالقسط (dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil) janganlah menambahkan untuk kepentingan diri sendiri, timbanglah dan takarlah dengan sempurna pada waktu menjadi penjual atau pembeli tidak ada pengurangan maupun penambahan di dalamnya. Menurut Ibn ‘Ashu>r ayat tersebut mengisyaratkan bahwa mereka dituntut untuk memenuhi secara sempurna timbangan dan takaran, sebagaimana dipahami dari kata اوفوا yang berarti sempurnakanlah, sehingga perhatian mereka tidak sekedar pada upaya tidak mengurangi, tetapi juga penyempurnaannya. Perintah penyempurnaan ini juga mengandung dorongan untuk meningkatkan kemurahan hati dan kedermawanan untuk sekedar berlaku adil.
Kata القسط mengandung makna rasa senang kedua pihak yang bertranstaksi, bukan sekedar berarti adil, apalagi kalau ada keadilan yang tidak menyenagkan hati salah satu pihak. Qist} bukan hanya berlaku adil, tetapi sekaligus menjadikan kedua belah pihak senang dan rela. Timbangan dan takaran harus menyenangkan kedua pihak, karena ayat tersebut di samping untuk memerintahkan menyempurnakan takaran dan timbangan, tapi juga memerintahkan penyempurnaan itu bi al-qist}, bukan sekedar bi al-‘adl.
Perintah penyempurnaan takaran dan timbangan dilanjutkan dengan kalimat لانكلف نفسا الا وسعها (kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sesuai kemampuannya. Hal ini dikemukakan untuk mengingatkan bahwa memang dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah untuk mengukur apalagi menimbang, yang benar-benar mencapai kadar adil yang pasti. Meskipun demikian, penimbang dan penakar hendaknya berhati-hati dan senantiasa melakukan penimbangan dan penakaran itu semampu mungkin serta melakukannya dengan sungguh-sungguh agar tidak melenceng dari hukum Islam. Allah berfirman dalam surah al-Mutaffifin: 1-3, yang berbunyi:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi.

Surah tersebut menyebutkan salah satu hal yang banyak terjadi dalam hubungan antara manusia yaitu menyangkut ukuran, merupakan dosa besar adalah berkhianat (tidak jujur) dalam ukuran dan timbangan.
Kata ويل (celaka, binasa) wail pada mulanya digunakan oleh pemakai bahasa arab sebagai doa jatuhnya siksa. Akan tetapi al-Qur’a>n menggunakannya dalam arti ancaman jatuhnya siksa, atau dalam arti satu lembah yang sangat curam di neraka. Menurut Imam Qurtuby wail adalah siksa yang sangat pedih di akhirat, dan Ibn ‘Abbas berkata: bahwasannya wail adalah jurang (lembah) yang ada di neraka jahannam di dalamnya mengalir nanah yang bercampur darah ahli neraka. Sedangkan kata مطففين menurut ulama bahasa adalah mereka yang mengurangi timbangan dan takaran, kata tersebut diambil dari kata طف (dekat/sisinya), yang dalam hadith كلكم بنو ادم طف الصاع maksudnya adalah sabagian kalian semua adalah dekat dengan sebagian yang lainnya, tidak ada salah satu dari kalian yang lebih utama melainkan dengan takwa.
Ayat selanjutnya, الناس على, al-Fara’ menafsirkan الناس من (dari manusia), menurut az-Zajaj adalah apabila mendapat takaran dari orang lain mereka memintak untuk dilebihkan, dan apabila menimbang untuk orang lain mereka menguranginya. Ayat tersebut merupakan ancaman kepada semua pihak agar tidak melakukan kecurangan dalam penimbangan dan penakaran, perlakuan semacam ini bukan saja ksecurangan tetapi juga pencurian dan bukti kebejatan pelaku. Menurut Ibn ‘Araby orang yang melakukan kecurangan tersebut seperti mencuri setiap sesuatu, dan mencuri shalatnya yaitu tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Pedahal Allah memerintahkan untuk menyempurnakan timbangan dan takaran, Allah berfirman dalam surah al-Rahman ayat 9, yang berbunyi:
وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Di samping larangan berbuat curang dalam berbisnis serta perintah untuk berbuat adil dalam etika bisnis, selanjutnya Allah memerintahkan untuk sama-sama rela dalam berbisnis, Allah berfirman dalam surah an-Nisa>’ ayat 29, yang berbunyi:
Hai orang-orang beriman, jangalah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.

Ayat إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ , menjelaskan keumuman kemutlakan membolehkan tija>rah secara keseluruhan, Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 275, واحل الله البيع tija>rah diperbolehkan pada seluruh jual beli kecuali yang menunjukkan kepada keharaman, karena kata tija>rah lebih umum dari pada kata bai’, dan tija>rah mengandung akad-akad tija>rah, serta masa terjadinya transaksi. Ayat tersebut menekankan juga keharusan adanya kerelaan kedua belah pihak, atau diistilahkan dengan (‘an taradin min kum), walaupun kerelaan adalah sesuatu yang tersembunyi di lubuk hati, tetapi indikator dan tanda-tandanya dapat terlihat. Ijab dan kabulnya, atau apa saja yang dikenal dalam adat kebiasaan sebagai serah terima adalah bentuk-bentuk yang digunakan hukum untuk menunjukkan kerelaan. Setelah adanya transaksi dalam jual beli, Allah menganjurkan untuk melakukan evaluasi dan plening untuk yang akan datang, hal ini dijelaskan dalam surah al-Hasyr ayat 18, yang berbunyi:
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Hasyr: 18)

Perintah memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok dipahami oleh T{abat}aba’iy sebagai perintah untuk melakukan evaluasi terhadap amal-amal yang telah dilakukan. Ini seperti seorang tukang yang telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia dituntut untuk memperhatikan kembali agar menyempurnakannya bila telah baik, atau memperbaikinya bila masih ada kekurangannya. Kalau baik maka dia dapat mengharap ganjaran, kalau buruk hendaknya segera bertaubat.

F. Hikmah yang dapat diambil
Ayat-ayat yang menjelaskan etika bisnis Islami dapat diambil hikmah hukumnya, yaitu:
1. Kejadian perbuatan curang dalam menimbang dan menakar, itu terjadi pada masa Nabi Shu’aib dan Nabi Muhammad, kaum Nabi Shu’aib berbuat curang dalam menimbang dan menakar dan melakukan kerusakan di bumi, mereka diingatkan oleh Nabi Shu’aib untuk tidak melakukan perbuatan tersebut dan mengatakan pada mereka فاتقواالله واطيعون , akan tetapi mereka melakukan penghinaan kepada Nabi Shu’aib, sehingga Allah memberikan adab kepada mereka semua atas perbuatan yang dilakukannya. Sedangkan umat Nabi Muhammad yang ada di makkah dan madinah telah melakukan kecurangan seperti halnya kaum Nabi Shu’aib, setelah Nabi mengetahui apa yang terjadi pada saat itu, kemudian Nabi menyampaikan ayat mengenai siksaan (surah al-mut}affifi>n) kepada mereka yang melakukan kecurangan dalam timbangan dan takaran, setelah mendengarkan Nabi Muhammad kemudian mereka bertaubat dan kembali kejalan yang benar.
2. Mengurangi timbangan dan takaran hukumnya haram syar’iy, dan mendapatkan dosa serta siksa yang sangat pedih di akhirat nanti. Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat orang Madinah yang mengurangi timbangan saat berdagang, mereka menjual muna>baz}ah, mula>masah, dan mukha>d}arah. Semua itu merupakan jual beli gharar, misalnya juga jual beli burung di udara.
3. Larangan berbuat curang dalam melakukan bisnis tersebut, Islam mengajarkan untuk berbisnis secara Islami, yaitu: tauhid, adil, ihsan, amanah (jujur), ta’awu>n (kerjasama), fat}anah, tabligh, dan keramahtamahan, dengan terwujudnya bisnis secara Islami maka timbulnya professional yang kompetitif dalam dunia bisnis. Di samping nilai-nilai positif sebagai pegangan, ada nilai-nilai yang harus dihindari yaitu nilai-nilai negatif seperti: H{irs (kerakusan), iktinaz (menimbun kekayaan), syuh} (pelit), z}ulm (penindasan), dan lain-lainnya.
4. Dengan adanya alat untuk menimbang dan menakar, alat tersebut digunakan untuk menegakkan keadilan dan menyempurnakan transaksi.
5. Melakukan evaluasi setiap setelah melakukan bisnis, hal ini dilakukan untuk memeriksa dan menyempurnakan kekurangan atau kelebihan dalam bisnis.

KESIMPULAN
Penjelasan tersebut dapat disimpulkan, bahwa:
1. Dalam etika berbisnis Islam yang pertama adalah melakukan bisnis dengan Allah yaitu melaksanakan aturan-aturan agama yaitu tidak meninggalkan shalat.
2. Allah melarang mereka yang melakukan kecurangan dalam berbisnis, dan perbuatan tersebut haram syar’i. Islam mengajarkan untuk berbisnis secara Islami, yaitu: tauhid, adil, ihsan, amanah (jujur), ta’awu>n (kerjasama), fat}anah, tabligh, dan keramahtamahan, dengan terwujudnya bisnis secara Islami maka timbulnya professional yang kompetitif dalam dunia bisnis. Di samping nilai-nilai positif sebagai pegangan, ada nilai-nilai yang harus dihindari yaitu nilai-nilai negatif seperti: H{irs (kerakusan), iktinaz (menimbun kekayaan), syuh} (pelit), z}ulm (penindasan), dan lain-lainnya.
3. Islam memberikan solusi dalam melakukan bisnis, yaitu dengan menggunakan bisnis secara Islami, untuk mewujudkan profesional dan kompetitif.

DAFTAR PUSTAKA

Aby al-Fida>’ al-Ha>fiz} Ibn Kathi>r al-Damasyqy. Tafs>ir al-Qur’a>n al-‘Az}i>m. Beirut: Maktabah ‘Ilmiyah, 1994.
Ah}mad al-Wahidi al-Naisabury. Asba>b al-Nuzu>l. Beirut: Dar al-Fikr, 1991.
Ah}mad al-Ans}ari al-Qurt}uby. Al-Ja>mi’ li al-Ah}ka>m al-Qur’a>n, vol. 13. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
—————. Al-Ja>mi’ li al-Ah}ka>m al-Qur’a>n, vol. 19. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
Ah}mad al-Ra>zy al-Jas}s}a>s}. Ah}ka>m al-Qur’a>n, vol. 2. Beirut: Dar al-Fikr, 1993.
—————. Ah}kam al-Qur’a>n, vol. 3. Beirut: Dar al-Fikr, 1993.
Ahmad Warson Munawwir. al-Munawwir; Kamus Araby-Indonisia. tt: Pustaka Progressif, tt.
Akhmad Mujahidin. Ekonomi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.
Amir Syarifuddin. Garis-Garis Besar Fiqh. Jakarta: Prenada Media, 2003
Anoraga, Soegiastuti. Pengantar Bisnis Modern, Kajian Dasar Manajemen Perusahaan. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1996.
Ibn ‘Araby. Ah}kam al-Qur’a>n. vol. 4. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1988.
Imam Nawawy. S{ah}i>h} Muslim bi Sharh}i al-Nawawy, vol. 10, Beirut: Dar al-Fikr, tt.
‘Izzah Darwazah. al-Tafsi>r al-Hadi>th Tartib al-Surah H{isab al-Nuzu>l, vol. 3 Beirut: Dar al-Garb al-Islamiyyah, 1964
Muhammad H{asan al-H{ams}y. Tafsi>r wa Baya>n Mufrada>t al-Qur’a>n. Beirut: Dar al-Rasyid, tt.
Muhammad Akram Khan. Ajaran Nabi Muhammad Tentang Ekonomi; Kumpulan Hadith-hadith tentang Ekonomi. Jakarta: Institute of Policy Studies Islamabad, 1997.
Muhammad, Alimin. Etika & Perlindungan Konsumen dalam Ekonomi Islam. Yogyakarta: BPFE, 2004.
Muhammad Ismail Yusanto, Muhammad Karebet. Menggagas Bisnis Islami. Jakarta: Gema Insani, 2002.
Muh}ammad Isma>’i>l Ibrahi>m. Mu’jam al-Alfaz} wa al-A’La>m al-Qur’a>niyah. tt: Dar al-Fikr al-‘Araby, tt.
M. Quraish Shihab. Wawasan al-Qur’a>n: Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 2006.
—————. Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’a>n, vol. 2. Jakarta: Lentera Hati, 2007.
—————. Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’a>n, vol. 4. Jakarta: Lentera Hati, 2007.
—————. Tafsir Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’a>n, vol. 15. Jakarta: Lentera Hati, 2007.
—————. Tafsir Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’a>n. vol. 10. Jakarta: Lentera Hati, 2007.
Pius A Purtanto, M. Dahlan al-Barry. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola, tt.
Wahbah Zuhaily. Al-Tafsi>r al-Muni>r; fi al-‘Aqidah wa al-Shari>’ah wa al-Manha>j, vol. 10. Beirut: Dar al-Fikr, 2006.
—————. Al-Tafsi>r al-Muni>r; fi al-‘Aqidah wa al-Shari>’ah wa al-Manha>j. vol. 14, Beirut: Dar al-Fikr, 2006.

Advertisements

Imam Malik

LATAR BELAKANG PEMIKIRAN HUKUM IMAM MALIK

Oleh: M. Zakariya Mochtar.

  1. Riwayat Hidup Imam Malik

Imam Malik memiliki nama lengkap Abu bdullah Malik ibn Anas ibn Malik ibn Abi ‘Amr ibn al Haris ibn Gaiman ibn Husail ibn ‘Amr ibn Al-Haris Al-Asbahi Al-Madani. Kunyahnya Abu ‘Abdullah, sedangkan laqabnya Al-Asbahi, Al-Madani, Al-Faqih, Al-Imam Dar Al-Hijrah, dan Al-Humairi.[1]

Imam Malik adalah Imam yang kedua dari imam-imam empat serangkai dalam Islam. Beliau dilahirkan di kota Madinah, suatu daerah di Negeri Hijaz tahun 93 H/12 M, dan wafat pada hari ahad 10 Rabi’ul awwal 179 H / 789 M di Madinah. Pada masa pemerintahan ‘Abbasiyah di bawah kekuasaan Harun al-Rasyid. Beliau adalah keturunan bangsa arab dusun Zu Ashbah, sebuah dusun di kota Himyar, jajahan Negeri Yaman. Ibunya bernama Siti Al-Aliyah binti Syuraik ibn Abd. Rahman ibn Syuraik Al-Azdiyah. Ada riwayat yang menyatakan bahwa Imam Malik berada dalam kandungan rahim ibunya selama dua tahun, ada pula yang mengatakan sampai tiga tahun.

Imam Malik merupakan seseorang yang berbudi mulia, dengan pikiran yang cerdas, pemberani dan teguh mempertahankan kebenaran yang diyakininya. Beliau seorang yang mempunyai sopan santun dan lemah lembut, suka menengok orang sakit, mengasihani orang miskin dan suka memberi bantuan kepada orang yang membutuhkannya. Ia juga seorang yang sangat pendiam, kalau berbicara dipilihnya mana yang perlu dan berguna serta menjauhkan diri dari segala macam perbuatan yang tidak bermanfaat.[2]

Namun di balik kelembutan sikapnya, beliau memiliki kepribadian yang sangat kuat, dan kokoh dalam pendirian. Beberapa hal yang bisa menjadi bukti adalah: Pertama, penolakan Imam Malik untuk datang ke tempat penguasa (istana), khalifah Harun al-Rasyid, dan menjadi guru bagi keluarga mereka. Bagi Imam Malik, semua orang yang membutuhkan ilmu harus datang kepada guru dan ilmu tidak mendatangi muridnya serta tidak perlu secara eksklusif disendirikan, mesti mereka adalah penguasa. Kedua, Imam Malik pernah dicambuk 70 kali oleh gubernur Madinah Ja’far al-Mansur, karena menolak mengikuti pandangan Ja’far ibn Sulaiman. Bahkan dalam sebuah riwayat diceritakan Imam Malik didera dengan cemeti, sehingga tulang punggungnya hampir putus dan keluar dari lengannya dan tulang belakangnya hampir remuk. Setelah itu beliau diikat diatas punggung unta dan diarak keliling Madinah, supaya beliau malu dan mencabut fatwa-fatwanya yang berbeda dengan penguasa, tetapi Imam Malik tetap menolaknya. Ketiga, meski tiga khalifah Ja’far al-Mansur (131-163 H), Al-Mahdi (163-173 H), dan Harun al-Rasyid (173-197 H) telah meminta Imam Malik menjadikan al-Muwatta sebagai kitab resmi Negara, namun tiga kali pula Imam Malik menolak permintaan mereka.[3]

Pada mulanya beliau belajar dari Rabiah, seorang ulama yang sangat terkenal pada waktu itu. Selain itu, beliau juga memperdalam hadis kepada ibn Syihab, disamping juga mempelajari ilmu fiqh dari para sahabat. Karena ketekunan dan kecerdasannya, Imam Malik tumbuh menjadi seorang ulama yang terkemuka, terutama dalam bidang ilmu hadis dan fiqh. Setelah mencapai tingkat yang tinggi dalam bidang ilmu itulah, Imam Malik mulai mengajar, karena beliau merasa memiliki kewajiban untuk membagi pengetahuannya kepada orang lain meskipun begitu, beliau dikenal sangat berhati-hati dalam memberi fatwa. Beliau tak lupa untuk terlebih dahulu meneliti hadis-hadis Rasulullah SAW. dan bermusyawarah dengan ulama lain, sebelum kemudian memberi fatwa atas suatu masalah.[4]

Imam Malik dikenal mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Beliau pernah mendengar tiga puluh satu hadis dari Ibn Syihab tanpa menulisnya. Dan ketika diminta untuk mengulanginya seluruh hadis tersebut, tak satupun yang dilupakan. Selain itu, beliau dikenal sangat ihlas dalam melakukan sesuatu. Sifat inilah yang kiranya yang memberikan kemudahan kepada beliau di dalam mengkaji ilmu pengetahuan. Beliau sendiri pernah berkata: “Ilmu adalah cahaya, ia akan mudah mencapai dengan hati yang taqwa dan khusyu'”. Beliau juga menasehatkan untuk menghindari keraguan. Ia berkata “sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang jelas. Jika engkau menghadapi dua hal, dan salah satunya meragukan, maka kerjakanlah yang lebih meyakinkan menurutmu”.

Beliau adalah seorang ulama yang sangat terkemuka, terutama dalam bidang hadis dan fiqh. Ia mencapai tingkat yang sangat tinggi dalam kedua cabang ilmu tersebut Imam Malik bahkan telah menulis kitab al-Muwatta yang merupakan kitab hadis dan fiqh.

Imam Malik meninggal dunia pada usia 86 tahun. Namun demikian mazhab Maliki tersebut luas dan dianut banyak bagian di seluruh dunia.[5]

  1. Guru-guru Imam Malik

Sejak kecil atas dukungan orang tuanya, khususnya ibunya, beliau berguru kepada ulama di Madinah. Beliau tidak pernah berkelana keluar dari Madinah. Karena pada waktu itu kota Madinah adalah pusat ilmu pengetahuan agama Islam dan karena tempat inilah banyak tabi’in yang berguru pada sahabat-sahabat Nabi. Imam Malik pernah belajar kepada 900 guru, 300 diantaranya dari golongan tabi’in. menurut Amin Al-Khulli, diantara guru-gurunya yang terkemuka adalah:

Rabi’ah al-Ra’yi bin Abi Abdurrahman Furuh al-Madinah (wafat 136 H). Rabi’ah adalah guru Imam Malik pada waktu kecil, yang mengajari Imam Malik tentang ilmu akhlak, ilmu fiqih, dan ilmu hadits.

Ibn Hurmuz Abu Bakar bin Yazid (wafat 147 H). Imam Malik berguru kepada Hurmuz selama kurang lebih 8 tahun dalam ilmu kalam, ilmu I’tiqad dan ilmu fiqih yang mendapatkan 54-57 hadis darinya. Ibn Hurmuz merupakan guru Imam Malik yang sangat berpengaruh padanya sangat sedikit apa yang dapat diketahui tentang Ibn Hurmuz kecuali anggapan bahwa ia salah satu ulama terkemuka Madinah saat itu. Namun dalam kitab al-Muwatta, tidak ada penyebutan nama Ibn Hurmuz sebagai rujukan, karena ia telah meminta Malik bersumpah untuk tidak menyebutnya dalam setiap hadis apa yang ia riwayatkan darinya.[6]

Ibn Syihab al-Zuhri (wafat 124 H), Imam Malik meriwayatkan 132 hadis darinya, dengan rincian 92 hadis musnad dan yang lainnya mursal.

Nafi’ ibn Surajis Abdullah al-Jelani (wafat 120 H). dia adalah pembantu keluarga Abdullah ibn ‘Umar dan hidup pada masa khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Riwayat Imam Malik darinya adalah riwayat yang paling shah}i h} sanadnya. Imam Malik mendapat 80 hadis lebih dari Nafi’.

Ja’far Sadiq ibn Muh}ammad ibn ‘Ali Al-H usain ibn Abu Tha lib al-Madani (wafat 148 H). Beliau adalah salah seorang Imam isna asy’ariyah, ahlu bait dan ulama besar. Imam Malik berguru fiqih dan hadis kepadanya dan mengambil sembilan hadis darinya dalam bidang manasik.

Muh}ammad ibn Al-Munkadir ibn Al-H adiri Al-Taimy Al-Quraiysi (wafat 131 H). beliau adalah saudara dari Rabi’ah Al-Ra’yi, ahli fiqih Hijaz dan Madinah, Ahli Hadis dan seorang qari’ yang tergolong Sayyida t al-Qura’.[7]

  1. Kitab al-Muwatta’

Kitab al-Muwatta’, ia merupakan salah satu karya paling monumental. Bahkan kedudukan kitab al-Muwatta’ boleh dibilang dapat sejajar dengan kitab-kitab hadist ter-mashhur yang ada di dalam Islam. Sepintas dalam pandangan sederhana, ketika mencermati nama al-Muwatta dapat ditarik kesimpulan bahwa kitab tersebut sangat terkait dengan salah satu metode pembukuan hadis yang digunakan oleh Imam Malik. Terutama, ketika Imam Malik melakukan kodifikasi terhadap kitab hadis tersebut.[8]

Dalam hal ini, dapat dilihat dari dua perspektif. Perspektif pertama, yaitu terminologi atau defenisi dari kata al-Muwatta’ ( الموطأ). Secara etimologi, kata Muwatta’ ( موطأ) berarti yang disepakati atau tunjang atau panduan tentang ilmu dan hukum-hukum agama. Sedangkan menurut terminologi, al-Muwatta’ merupakan sebuah kitab yang mengandung hadis-hadis hukum yang dikumpulkan oleh Imam Malik serta pendapat para sahabat dan ulama-ulama tabi’in.[9] Istilah tersebut, memang mendeskripsikan di dalam kitab itu sendiri yang di dalamnya tidak lain terdiri dari hadis-hadis dari ahl al-Hizāz, pendapat para Sahabat, fatwa-fatwa dari Tabi’in dan kelompok setelahnya.[10]

Dalam perspektif lain, yaitu metodologi hadis, kata Muwatta’ ( الموطأ) berasal dari bahasa Arab yang berarti “sesuatu yang dimudahkan”. Sedangkan menurut Istilah metodologi, Muwatta merupakan metode pembukuan hadis yang berdasarkan klasifikasi hukum Islam (abwab fiqhiyah) dan mencantumkan hadis-hadis marfu’ (berasal dari Nabi S.A.W), mauquf (berasal dari Sahabat), dan maqtu’ (berasal dari Tabi’in).[11]

Dengan demikian, dapat ditarik benang merah bahwa salah satu motivasi Imam Malik dalam melakukan pembukuan dengan menggunakan metode ini adalah untuk memudahkan bagi para pen-takhrij dalam mencari hadis. Dan barangkali bagi sebagian masyarakat pada saat itu, mereka sedang mengalami kesulitan ketika mencari hadis. Tentunya, ini merupakan suatu perhatian yang luar biasa dari seorang ulama besar dalam menyebarluaskan tanggungjawabnya sebagai seorang imam (baca: ulama).

Perhatian Imam Malik dalam bidang hukum Islam telah terbukti dengan hadirnya kitab al-Muwatta’. Tergugahnya hati Imam Malik untuk menulis dan mengkodifikasi kitab tersebut, tidak lain, berkat anjuran dari Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur pada tahun 144H. Kegiatan penulisan kitab tersebut, selesai ditulis oleh Imam Malik pada tahun 158H.[12]begitu juga, Imam Malik selesaikan di kota kelahirannya, yaitu kota Madinah.[13]

Menurut pandangan sederhana bahwa ultimate goal dari perintah tersebut, sebagai sesuatu essensi yang berbanding lurus dengan cita-cita Abu Ja’far. Bahwa Abu Ja’far menganggap akan pentingnya keberadaan sebuah kitab yang dapat dijadikan sebagai salah satu kitab rujukan bagi para hakim di pengadilan.[14] Walau pada akhirnya, Imam Malik sendiri yang menolak, jika kitabnya dijadikan sebagai salah satu rujukan pada waktu itu.

Berdasarkan hasil penelitian, sebagaimana yang dikutip oleh Zahri dari Abu Bakar al-Bahari, bahwa secara substansi atau isi, jumlah hadis yang terakumulasi dalam kitab al-Muwatta’ adalah kurang lebih 1720 hadis. Dari jumlah tersebut, tidak hanya athar Rasulullah. Tetapi juga, dari para Sahabat maupun athar dari para Tabi’in.[15] Sudah otomatis dari substansi itu saja sangat mencirikan sebagai salah satu karakteristik dari Imam Malik yang berbeda dengan kitab-kitab hadis lainnya.

Dari jumlah tersebut di atas, kesempurnaan kitab al-Muwatta’ merupakan buah hasil dari kerja keras Imam Malik setelah melakukan perjalanan panjang dalam mengkaji ulang hadis-hadis yang terakumulasi di dalam kitabnya.[16] Padahal sebelumnya, bilangan dari hadis-hadis yang terakumulasi dalam kitab al-Muwatta berjumlah kurang lebih 10.000 hadis.[17]

Selain Imam Malik, terdapat pula ulama-ulama besar lain, bahwa mereka telah melakukan penulisan hadis yang sama sebagaimana yang dilakukan Imam Malik, yaitu mereka menulis dengan menggunakan metode muwatta’. Sebut saja misalnya, Imam Abu Dzi’b (w. 158H) dan Imam Abu Muhammad al-Mawarzi (w. 293H).

Namun tampaknya, kitab Imam Malik-lah yang lebih populer dari kitab-kitab muwatta’ yang ada. Bahkan menurut pendapat Ya’qub, bahwa “apabila disebutkan nama muwatta’, maka konotasinya langsung dan selalu tertuju kepada kitab hasil karangan Imam Malik”.[18]

Terjadinya kondisi seperti itu, karena memang pengaruh besar dari legitimasi Imam Malik di tengah-tengah masyarakat. Bahkan hal tersebut, telah menjadi kepercayaan yang luar biasa terhadapnya. Walau pada akhirnya, banyak ulama yang menyebutkan bahwa kitab al-Muwatta’ bukanlah kitab hadist secara an sich, tetapi juga sebagai kitab fikih.

Dikatakan kitab al-Muwatta’ sebagai kitab fikih, terletak pada corak Imam Malik ketika mengutip hadis- hadis yang memang hanya mementingkan pada aspek matan hadist (substansi) saja. Mungkin hal demikianlah yang berbeda dengan ulama- ulama hadis pada umumnya, bahwa mereka lebih mendahulukan pada aspek sanad (perawi) hadis. Bahkan hal tersebut yang menjadikan Imam Malik lebih dikenal sebagai ulama Fikih dari pada ulama hadis.

Walau demikian, bukan berarti Imam Malik tidak mengetahui tentang sanad hadis. Tetapi karena memang Imam Malik menganggap bahwa mereka (baca: perawi) yang meriwayatkan hadis-hadis tersebut sudah cukup mashhur atau terkenal. Disinilah, menurut hemat penulis, sebagai salah satu kelemahan dari kitab tersebut. Seharusnya sudah terpikirkan oleh Imam Malik bahwa kitabnya tidak hanya digunakan pada masanya, tetapi juga untuk digunakan pada masa yang akan datang.

Selanjutnya, kitab al-muwatta’, sebagaimana yang kita ketahui, ia merupakan kitab yang ternyata terdapat atau diterbitkan ke dalam berbagai versi yang berbeda. Menurut Azami bahwa kitab tersebut memiliki delapan versi dan lima belas diantaranya yang terkenal.[19] Begitu pula, menurut pendapat Duton “….hanya 9 versi dari sekian versi ini yang masih ada”.[20]

Diantaranya, terdapat beberapa versi yang dapat dilacak oleh penulis adalah kitab al-Muwatta riwayat Yahya al-Laithî[21] dan kitab al-Muwatta’ riwayat Muhammad bin al-Hasan. Walau demikian, jika dilacak secara seksama dari kitab tersebut, tetap tidak ada perbedaan signifikan dari kitab tersebut.

Dengan demikian, tidaklah salah dengan usaha yang dilakukan oleh Haddad, bahwa ia memilih sebuah pendapat dari Ibn Abd Barr dalam menilai keberadaan Imam Malik. Menurutnya, Imam Malik secara tidak langsung adalah sosok orang pertama yang mengkompilasi (baca: menyusun) bentuk buku narasi yang eksklusif. Dan itulah sebabnya, bahwa kitab al-Muwatta’ merupakan salah satu kitab hadis yang pertama pada masa awal dibandingkan dengan kitab Bukhari, lanjut beliau.[22]

Terkait statement di atas, dapat pula ditemukan beberapa pendapat mengenai perbedaan pendapat tersebut dalam kitab al-Muwatta sendiri. Diantaranya, salah satu pendapat dari al-Hafidz al-Mughlatha yang berpendapat bahwa kitab al-Muwatta’ tidak berbeda dengan kitab sahih al-Bukhari. Pendapat tersebut tentunya berbeda dengan statement dari Ibnu Hajar yang berpendapat bahwa adanya ikhtilaf diantara keduanya.[23]

Entah kenapa, keberadaan kitab sahih al-Bukhari lebih dikenal sebagai kitab hadis secara an sich. Mungkin karena memang, keberadaan kitab al-Muwatta’ lebih dikenal sebagai kitab fikih secara an sich. Terutama jika dihubungkan dengan keberadaan Imam Malik yang sangat mementingkan aspek matan dari sebuah hadis. Bahkan karakteristik itulah yang melekat di dalam dirinya sebagai sosok Imam Mazhab besar dalam dunia Islam.

  1. Latar Belakang Pemikiran Hukum

Secara substansi, Imam Malik sebagai salah satu sosok ulama yang sangat mendahulukan atau melatarbelakangi pemikirannya dengan otoritas Madinah. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh paradigma Imam Malik dalam merujuk beberapa pengetahuan tentang Islam, tak terkecuali yang berkaitan dengan bidang hukum. Lebih khusus, paradigma Imam Malik mengenai deskrifsi sunnah. Bahwa sunnah dimaknai dengan makna sangat luas.[24]

Dalam hal ini, makna sunnah dalam pandangan Imam Malik tidak hanya yang terdapat dalam hadis-hadis pada umumnya. Tetapi juga, apa-apa yang dipraktikkan secara terus-menerus oleh masyarakat Madinah. Hal itu juga, dilatarbelakangi oleh pandangan Imam Malik bahwa kota Madinah adalah ‘kota Rasul’, yaitu tempat yang paling utama, pertama, dan sentral (baca: pusat) wahyu Islam serta ‘keterlibatan Tuhan’ diejawantahkan secara praktis.[25]

Paradigma seperti di atas merupakan hasil rumusan atau konsep dari Imam Malik setelah melakukan perjalanan atau perjuangan panjang selama empat puluh tahun, sebagaimana yang terintegrasi di dalam kitabnya al-Muwatta’. Tentunya, formulasi hukum pemikiran Imam Malik, tidak bisa lepas dari latarbelakang sosial politik masyarakat, teritorial dan dan kondisi geografis pada saat itu. Bahkan kombinasi dari tiga faktor tersebut, akan berpengaruh pada formulasi shari’ah.[26]

Sebagai permisalan, bahwa Imam Malik pernah memukul dan memenjarakan seorang muridnya, ketika ia membantahnya dalam perihal penguburan rambut dan kuku. Bahkan, Imam Malik pernah menghukumi seseorang dengan zindiq dan boleh dibunuh, ketika ada seseorang yang berpendapat bahwa al-Quran itu makhluk. Hal semacan ini, dilatarbelakangi oleh kewenangan yang diberikan oleh al-Manshur (153H) kepada Imam Malik untuk mengangkat, memberhentikan pejabat dan menghukumi mati atau memenjarakan orang yang dipandangnya bersalah.[27]

Tentunya, kondisi sosial politik di sini sangat berpengaruh dalam melatarbelakangi pemikiran hukum Imam Malik. Disamping itu, kondisi geografis dimana Imam Malik tinggal, penuh dengan ahli hukum awal yang cenderung bermunculan konstruk shari’ah-nya (Abad II H) dibangun atas karya individual. Terutama, mereka yang hidup di sejumlah pusat Islam: Madinah dan Makkah, Bashrah dan Kufah, Damaskus dan Mesir.[28]

Menurut Marshal Hodgson (salah seorang ilmuan barat) misalnya, ia berpendapat bahwa usaha Imam Malik tersebut, berjalan atas dasar beberapa asumsi yang secara eksplisit berhubungan langsung dengan metode atau cara-cara yang dikenal oleh para ulama (baca: ulama sesepuh dari kaum Anshor) yang berada di Madinah, tentunya suatu hal yang tidak dirusak oleh ketidakpedulian Bani Umayah yang dikatakan terlambat masuk Islam maupun oleh cara-cara kesukuan (baca: panatisme suku) dari kota-kota Garnisum.[29]

Hal itulah, yang nantinya menjadi pembeda dari karakteristik Imam Malik sebagai ulama dalam bidang hukum dengan keberadaan imam-imam besar lainnya, seperti Hanafi, Syafi’i, dan Hambali. Terutama dalam hal, penggunaan teknik atau metode dalam berijtihad, misalnya, ‘Urf (adat kebiasaan).

Menurut Imam Malik, dalam batas-batas tertentu bahwa ‘urf dapat diterima sebagai sumber shari’ah. Metode ini, sejalan dengan Hanafi yang berpandangan bahwa ‘urf dapat melampaui qiyas, akan tetapi tidak dapat melampaui nash (baca: al-Quran dan al-Hadist), namun teknik ini ditolak oleh Syafi’i.[30]

Walau demikian, menurut hemat Schacht bahwa metode ‘urf hanya diyakini sebagai sebuah prinsip dalam menafsirkan pernyataan-pernyataan. Bahkan, ‘urf diyakini juga oleh Imam Malik sebagai sebagai suatu dasar bagi istihsān atau istişlah. Namun, pada kenyataannya, Imam Malik lebih memilih metode istişlah dengan memperhatikan kepentingan umum (maşlahah). [31]

Disadari atau tidak, paradigma seperti itu akan sangat berpengaruh dengan produk hukum yang diijtihadkan (baca: di-istimbath-kan) oleh Imam Malik. Sehingga, tidak dapat dipungkiri bahwa Imam Malik selalu melihat kepada kebiasaan para sahabat dalam menentukan hukum, ketika tidak ditemukan dalil yang secara eksplisit di dalam al-Quran dan al-Hadis. Misalnya saja, Sikap Imam Malik dalam merumuskan hukum tentang zakat, bahwa Imam Malik menentukan hukum zakat yang tidak lain berpijak pada kebiasaan masyarakat Madinah atau yang biasa disebut dengan istilah Amal ahlu Madinah. Terutama sangat terlihat dalam kaca mata atau konstalasi metodologi, yaitu ushul fiqih.[32]

Di dalam mengistinbathkan hukum syar’i Imam Malik bin Anas membuat patokan antara lain:

  1. Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalam Allah semuanya. Semua ulama sudah sepakat bahwa al-Qur’an adalah pegangan utama untuk mengambil sutu hukum, dan disitu pula keutuhan al-Qur’an dalam kebenaran benar-benar terpelihara sebagaimana firman Allah Swt.

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون (الحجر: 9)

Artinya:“Sesungguhnya kami telah menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya kami benar-benar terpelihara”.[33]

Melihat dari keterangan tersebut bahwa dengan diturunkan al-Qur’an, Maka Allah akan menjaga dan memelihara kebenaran, keutuhannya sehingga akan sesuai dengan keadaan masa. Maka sudah pasti para fuqaha sudah sepakat mempergunakan al-Qur’an sebagai dasar utama istinbat} hukum.[34]

  1. As-Sunnah

As-Sunnah yang merupakan dasar hukum Islam yang kedua,[35] perlu dipergunakan karena segala perbuatan Nabi sesuai dengan al-Qur’an dan jikalau tidak ada ayat al-Qur’an maka sunnahnya yang menjadi penjelas Al-Qur’an, karena memang juga tidak di dapat dalam al-Qur’an.[36]

Mengikuti sunnah Rasul itu adalah wajib, sesuai dengan firman Allah:

قل اطيعوا الله والرسول (آل عمران: 32)

Artinya: “Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul”.[37]

من يطع الرسول فقد أطاع الله (النساء: 80)

Artinya: “Barang siapa yang mentaati Rasul untuk maka sesungguhnya Beliau telah mentaati Allah”[38]

Sebagaimana pula dijelaskan dalam ayat yang lain

ياأيهـا الذين آمنوا اطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم فإن تنازعتم في شيئ فردوه إلي الله والرسول … (النساء: 59)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya, dan Ulil Amri dari kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-sunnah nya).”[39]

Mengikuti sunnah merupakan kewajiban bagi orang Islam, Sebagai sumber hukum Islam tidak hanya legislasi al-Qur’an saja yang telah memberi petunjuk tetapi juga sunnah.

  1. Ijma ‘

Ijma ’ menurut Ulama’ Usul Fiqih adalah :

اتفاق المجتهدين من الامة الاسلامية في عصر من العصور بعد انتهاء فترة الرسالة على حكم شرعى

Kebulatan pendapat para mujtahid dari umat Islam di suatu masa, sesudah berakhir zaman risalah terhadap sesuatu hukum syara’.[40]

Kesepakatan Mujtahid terhadap suatu hukum sebagai penghasil hukum yang dapat dijadikan suatu dalil oleh suatu masyarakat, itupun hanyalah disebutkan ketika wafatnya Rasulullah.

Sedangkan mengenai Ijma ’ Imam Malik adalah:

وما كان فيه الامر المجتمع عليه فهو ما اجتمع عليه قول اهل الفقه والعلم لم يختلفوا فيه

Artinya: “Dan sesuatu urusan yang telah di ijmai, maka Beliau telah di ijmai oleh ahli fikih dan para ahli ilmu, mereka tidak berselisih didalamnya” [41]

Tetapi juga ada yang sebagai pedoman Imam Malik sebagai sandarannya yaitu:

الإجماع هو اتفاق اهل الحل والعقد ما هذه الامة في أمر من الأمور

Ijma’ adalah persetujuan pendapat ahluh alli wal aqli dari umat ini, terhadap suatu urusan dari urusan itu.[42]

Yang dimaksud dengan ittifaaqi adalah sama-sama mengeluarkan pendapat, Sama-sama mengerjakan atau sama-sama mengi’tiqodkan, sedangkan ahlul h}alli wal aqli adalah para mujtahid dalam hukum Islam atau Syari’at. Inilah yang menjadi sandaran Imam Malik dalam Ijma’nya.

  1. Kehujahan ijma’

Pertama adalah :

ياأيهـا الذين آمنوا اطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم (النساء: 59)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasulnya dan Ulil amri diantara kamu“.[43]

Sebagaimana dalam al-Qur’an Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah dan para Rasulnya serta para Ulul amri, lafal al-amru berarti suatu urusan dan Beliau adalah umum yang meliputi urusan Agama dan duniawi. Ulul amri dunia adalah para Raja, para amir dan para penguasa, Sedangkan ulul amri Agama adalah para Mujtahid dan para ahli fatwa. Mereka wajib diikuti, Sebagaimana Firman Allah Swt:

ولو ردوه إلي الرسول وإلي أولى الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم (النساء: 83)

Artinya : “Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil amri (tokoh-tokoh sahabat dan para cendekiawan) diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahui dari mereka (Rasul dan Ulil amri)” [44]

Sebagaimana Sabda Nabi SAW:

لا تجتمع أمتى على خطاء

Artinya : ”Umatku tidak akan terkumpul atas kesalahan”

Sebagaimana dalam sabdanya yang lain:

لم يكن الله ليجمع أمتى علي الضلالة

Artinya: “Allah tidak akan menghimpun Umatku atas kesesatan” [45]

Juga dalam Sabda Nabi Saw:

ما راه المسلمون حسنا وهو عند الله حسن

Artinya: “Apa yang dipandang Umatku Umatku sebagai kebaikan maka di sisi Allah adalah baik”.

  1. Fatwa Sahabi

Imam Malik adalah seorang imam yang mempelajari fatwa-fatwa sahabat dan mengumpulkannya dan menjadikan dasar mazhabnya. Dengan tegas Imam Malik mengharuskan seorang mufti mengambil fatwa sahabat. Beliau berpendapat bahwa yang dikatakan sunnah adalah sesuatu yang diamalkan oleh para shahabat. Ada dua Sahabat yang dipegang Imam Malik yaitu Abu Bakar as-Siddi q dan pendapat ‘Umar Bin Khattab saja. Ringkasnya Imam Malik menghargai pendapat para sahabat.[46]

  1. ‘Amal Ahlu Madinah

Imam Malik menggunakan ‘Amal Ahli Madinah sebagai hujjah dan inilah yang dimaksudkan dengan al-amrul mujtama’ indana sebagaimana mengikuti gurunya Imam Malik, yaitu Beliau. Sebagaimana pendapat Beliau:

الف عن الف خير من واحد عن واحد

Artinya: “Seribu orang mengambil dari seribu orang lebih baik dari seorang mengambil dari seorang”

Menurut Imam Malik apa yang diijma’ oleh ulama Madinah tidak ditentang oleh para ulama, ‘Amal Ahlul Madinah yang dimaksud Imam Malik didahulukan atas khabar ahad.[47]

Menurut Ibn Qayyim dalam bukunya hasbi asyiddiqi, membagi tiga amal ahli Madinah

اولها فقل شرع سبتدا عن النبى صلى الله عليه وسلم والثاني فقل العمل المتصل والثالث فقل الاماكين والاعبان ومقادر الاشياء

Sesuatu yang diambil sejak semula dari Nabi

Suatu perbuatan yang terus menerus dikerjakan

Menukilkan nama-nama tempat, nama-nama benda dan ukuran-ukuran.[48] Untuk menegaskan dimana hal itu nukilkan.

Dengan ringkas, tidak dapatlah kita mengritik Malik yang menghargai ‘Amal Ahlu Madinah apabila yang diijma’ itu berdasarkan nas atas apa yang mereka nukilkan itu, Itulah yang diterima oleh semua ulama’ mengenai ijma’ ulama Madinah, Masalah yang diistinbathkan ada 3 riwayat:

1. Imam Malik tidak memandang sebagai hujjah

2. Tetap ijma’ ‘amal ahlul Madinah bisa dijadikan penguat

3. Malik memandangnya hujjah, pendapat ini diambil sebagian ulama makkiyyah, karena amal ahli Madinah yang bersandarkan naqal didahulukan atas hadits ahad.[49]

  1. Istihsan

Istihsan adalah berpalingnya seorang mujtahid dari tuntutan Qiyas yang Jalli (nyata) kepada tuntutan Qiyas yang khafi (samar) atau dari hukum kulli (umum) kepada hukum yang istisna’ (pengecualian) ada yang menyebabkan beliau mencela akalnya dan memenangkan perpalingan ini.[50]

Imam Malik dalam berijtihad itu menggunakan Istihsa n. Imam Malik tidak menjadikan Istihsa n sebagai kaidah, tetapi dijadikan sebagai dasar pengecualian dalam kaidah sebagaimana dalam Perceraian. Ketidakmampuan suami memberikan nafkah sebagai alasan Perceraian Imam Malik berpendapat untuk menceraikannya dikarenakan akan menyakiti pihak istri. Atau dalam hal menerima saksi yang tidak adil karena tidak ada saksi yang adil. Itu tidak dipakai ketika menimbulkan kepicikan, lalu Istihsa nlah yang dipakai ketika dan Istihsa n itu adalah imbangan qiyas.[51]

Ulama Maliki menghindari pemakaian qiyas yang berlebihan dengan jalan kembali kepada uruf (adat kebiasan) dan kepada prinsip menolak kepicikan dan menolak kesukaran.

Dalam pendapat Imam Malik kebanyakan itu adalah mengikuti sahabat ‘Umar yaitu lebih mengedepankan Istihsan dari pada qiyas sedangkan qiyas itu adalah pendapat sahabat Ali.[52]

Dalam pendapat Imam Malik, Istihsa n itu berarti melaksanakan sesuatu berdasarkan dalil yang paling kuat diantara dua dalil yang umum.

  1. Qiyas

Qiyas dalam fiqih adalah:

إلحاق امر غير منصوص علي حكمه بأمر اخر منصوص على حكمه لعله جامعة بينهما مشتركة فيهما

Artinya: Menghubungkan suatu urusan yang tidak dinashkan hukumnya dengan suatu urusan yang lain dinashkan hukumnya, karena ada illat yang mengumpulkan antara keduanya yang bersekutu padanya.

Al-Qur’an dan as-sunnah bahkan akal membenarkan prinsip-prinsip qiya s ini. Para sahabat mempergunakan qiya s dalam mengeluarkan hukum yang mereka tidak temukan zahir al-Qur’an dan sunnah. Lalu disamakan hukumnya dengan hukum yang tidak dinashkan yang sama illatnya.[53]

  1. Maslahah Mursalah

Adalah suatu kemaslahatan yang tidak ditetapkan oleh syara’, suatu hukum untuk mewujudkannya dan tidak pula terdapat suatu dalil yang memerintahkan untuk mempergantikannya atau mengabaikannya.[54]

Imam Malik menggunakan maslahatul mursalah apabila tidak ada nash qur’ani atau hadis an Nabawi, karena syara’ itu tidak datang kecuali untuk kemaslahatan manusia, Setiap masalah syara’ mengandung kemaslahatan, tanpa ada keraguan. Apabila tidak ada nash, maka masalah yang hakiki itu memenuhi tahap tujuan (maqasid) syara’.[55]

  1. Syaz Zara i’i

Adalah secara lugoh adalah zari ‘ah artinya wasilah dan Syazzara i’i adalah menyumbat wasilah.[56] Dasar istinbath yang banyak dipakai Imam Malik, banyak dijumpai masalah furu’iyyah yang dinukil darinya yaitu sarana yang membawa pada hal-hal yang diharamkan, maka akan menjadi haram pula, sarana yang menyampaikan pada yang halal maka hukumnya adalah halal sesuai dengan tuntutan kehalalannya, begitu pula yang membawa kemaslahatan adalah haram. Beliau membagi kerusakan (mafsadat) menjadi empat:

1. Sarana yang secara pasti membawa kepada kerusakan

2. Sarana yang diduga kuat ajakan mengantarkan pada kerusakan

3. Sarana yang jarang sekali membawa kerusakan

4. Sarana yang banyak sekali mengantarkan kepada kerusakan tetapi tidak dipandang umum.[57]

  1. ‘Urf (adat kebiasaan)

Adalah apa yang menjadi kebiasaan masyarakat dan dijadikan jalannya terus menerus baik berupa perkataan maupun perbuatan.[58]

Dalam adat kebiasaan, Imam Malik lebih cenderung menggunakan ‘urf yang sa lih yang di situ menjadi kebiasaan sebagaimana seorang suami yang berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya.

  1. Istishab

Istishab adalah menetapkan hukum atas sesuatu berdasarkan keadaan yang sebelumnya sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahan keadaan tersebut atau Beliau adalah menetapkan hukum yang telah tetap pada masa yang lalu dan masih tetap pada keadaannya itu, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahannya.[59]

Istishab ini berdasarkan kaedah:

أن الاصل في الأشياء الإباحة

Artinya: “Sesungguhnya asal mula dalam segala sesuatu adalah dibolehkan.”

Imam Malik berpendapat, jika memang dalam nash al-Qur’an atau al-Hadis tidak ditemukan dalil syar’i yang membicarakan hukumnya maka Imam Malik memahami istishab untuk menetapkan suatu hukum.

  1. PENUTUP

Keberadaan kitab al-Muwatta’ yang tidak hanya dikenal sebagai kitab hadis, tetapi sebagai kitab fikih hingga dewasa ini. Bahkan yang sangat ironis, bahwa kitab al-Muwatta’ lebih dikenal sebagai kitab fikih dari pada sebagai kitab hadis. Hal ini, dilatarbelakangi oleh keberadaan Imam Malik sebagai salah satu ulama fikih yang besar bahkan sangat berpengaruh di daerah nan jauh di sana sebagaimana yang berkembang di Baghdad hingga dewasa ini.

Berkembangnya pemikiran Imam Malik yang dibawa oleh murid-muridnya, telah membawa kejayaan bagi Imam Malik dalam merubah pola pikir masyarakat dalam bidang hadis dan fikih. Tapi amat sangat disayangkan jika kepiyawayannya dalam bidang hukum tersebut tidak banyak diketahui oleh sebagian besar masyarakat muslim.

Tentunya, hal semacam ini selalu dilaterbelakangi oleh ulama awal yang yang mengkonstruk pemikiran hukumnya di tempat ia tinggal. Sebagaimana kondisi yang terjadi pada Imam Malik di Madinah, yang sangat rentan untuk lebih memilih pendapat ulama awal dimana ia pernah tinggal.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Gafur Sulaiman Al-Bandari, Al-Mausu’ah Rijal al-Kutub at-Tis’ah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1993), III

Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Us}u l Fiqh, Semarang : Dina Utama, 1994, cet ke-1

Abdullah Ahmed An-Na’im, Dekonstruksi Syari’ah, terj. Ahmad Suaedy dan Amirudin Ar-Rany, cet. IV, (Jogjakarta: LKIS, 2004)

Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadal al-Asqolāni al-Shāfi’i, Fath al-Barī Sarah Sahīh al-Bukhāri, J. Ke-1, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379)

Ali Abdul Halim Mahmud, Fikih Responsibilitas Tanggung Jawab Muslim dalam Islam, Jakarta: Gema Insani, Cet. Ke-2, 2000

Ali Mustofa Ya’qub, Kritik Hadis, Cet. Ke-3, ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000)

Al-Syatibi, Muwa faqa t fi Us}u l al-Ah}ka m, Jilid 4, Beirut: Darul al Kutub al Alawiyah, t.th.

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya,

Falah Ibn Muhammad al-Shagir dan Muhammad Ibn Yahya al-Yahyawi, Ulūm al-Qur’ān wa al-Sunah, (t.tp, Dar Ashbiliyā, tt)

Huzaemah Tahido Yango, Pengantar Perbandingan Madzhab, Cet. III, (Jakarta: Logos, 2003)

Ibnu Rushdi, Bidāyatul Mujtahid wa Niihāyatul Muqtasid, (Kairo: Dar el-Kutub al-Ilmiyah, 2002)

Jalaluddin Rahmat, Dahulukan Akhlak di atas Fiqih, (Bandung: Mizan, 2007)

Joseph Schacht, Pengantar hukum Islam, terj. Joko Supomo, (Jogjakarta: Islamika, 2003)

M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadis, Cet. I, (Yogyakarta: Teras, 2003)

M.M Azami, Memahami Ilmu Hadis: Telaah Metodologi dan Literatur Hadis, ( Jakarta: Lentera, 1997)

Malik bin Anas Abu Abdillah al-Asbahî, Muwatta’ al-Imam Malik, (Mesir: Dar Ihya al-Turāsh al-Ihya al-‘Arabi, t.th)

Marshall G. S. Hodgon, The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, terj. Mulyadhi Kartanegara, buku kedua, (Jakarta: Paramadina, 2002)

Muhammad bin Ja’far al-Katānī, al-Risālah al-Mutatrafah Li Bayāni Mashhûr Kutub al-Sunnah al-Muşannafah, (Beirut: Dal al-Bashā’ir al-Islamiyyah, 1986)

Muhammad bin Ja’far al-Katānī, al-Risālah al-Mutatrafah Li Bayāni Mashhûr Kutub al-Sunnah al-Muşannafah

Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzab, Cet. XIII, (Jakarta: Lentera, 2003)

Mustafa Zahri, Kunci Memahami Mustalahul Hadis, Cet. Ke-2, (Surabaya: Bina Ilmu Ofset, 1995)

Salafy, Imam Malik, dalam http://salafy.wordpress.com/2007/03/07/imam-malik/, (25 Oktober 2007).

Sayyed Hussein Nour, Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Bandung: Mizan, Cet I, 2002

Teungku Muhammad Habsi Asy-Syiddieqy, Teungku Muhammad Habsi Asy-Syiddieqy, Pokok – Pokok pegangan Imam Madzhab,

Teungku Muhammad Hasbi As Siddieqy, Pokok – Pokok pegangan Imam Madzhab.

Teungku Muhammad Hasby Asy shiddiqi, Pengantar Ilmu Fiqih, Semarang : PT. Bulan Bintang, 1989, Cet ke-6,

Teungku Muhammad Hasby Asy shiddiqi, Pokok – Pokok pegangan Imam Madzhab, Semarang : PT Pustaka Rizqi Putra, 1997, cet ke-1,

Wikipedia, Imam Malik, (25 Okotber 2007).

Yasin Duton, Asal Mula Hukum Islam: Al-quran, Muwatta’, dan Praktik Madinah, 46-48. sumber lain menyebutkan bahwa kitab al-Muwatta’ pernah diterjemahkan ke beberapa bahasa dalam edisi yang berlainan, lihat Rubrik Tokoh Muslim, Imam Malik, (25 Oktober 2007).

Yasin Dutton, Asal Mula Hukum Islam: Al-quran, Muwatta’, dan Praktik Madinah, xvii. Lihat juga, dalam Wikipedia, Imam Malik, (25 Oktober 2007).

Yusuf al Qardhawi, Fiqh Praktis bagi Kehidupan Modern, Jakarta: Gema Insani, Cet. I, 2002,


[1] Abdul Gafur Sulaiman Al-Bandari, Al-Mausu’ah Rijal al-Kutub at-Tis’ah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1993), III, h. 494

[2] Huzaemah Tahido Yango, Pengantar Perbandingan Madzhab, Cet. III, (Jakarta: Logos, 2003), h. 103

[3] M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadis, Cet. I, (Yogyakarta: Teras, 2003), h. 4

[4] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzab, Cet. XIII, (Jakarta: Lentera, 2003), h. xxvii

[5] Ibid, h. xxviii

[6] Yasin Dutton, Asal Mula Hukum Islam, h. 19

[7] M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadis, h. 5

[8] Ali Mustofa Ya’qub, Kritik Hadis, Cet. Ke-3, ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), 76.

[9] Wikipedia, Imam Malik, (25 Okotber 2007).

[10] Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadal al-Asqolāni al-Shāfi’i, Fath al-Barī Sarah Sahīh al-Bukhāri, J. Ke-1, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379), 7.

[11] Ali Mustofa Ya’qub, Kritik Hadis, 76.

[12] Malik bin Anas Abu Abdillah al-Asbahî, Muwatta’ al-Imam Malik, 6.

[13] Muhammad bin Ja’far al-Katānī, al-Risālah al-Mutatrafah Li Bayāni Mashhûr Kutub al-Sunnah al-Muşannafah, (Beirut: Dal al-Bashā’ir al-Islamiyyah, 1986), 5.

[14] Muhammad bin Ja’far al-Katānī, al-Risālah al-Mutatrafah Li Bayāni Mashhûr Kutub al-Sunnah al-Muşannafah 6-7.

[15] Mustafa Zahri, Kunci Memahami Mustalahul Hadis, Cet. Ke-2, (Surabaya: Bina Ilmu Ofset, 1995), 90.

[16] Rubrik tokoh Muslim, Imam Malik, (25 Oktober 2007)

[17] Salafy, Imam Malik, dalam http://salafy.wordpress.com/2007/03/07/imam-malik/, (25 Oktober 2007).

[18] Ali Mustofa Ya’qub, Kritik Hadis, 77.

[19] M.M Azami, Memahami Ilmu Hadis: Telaah Metodologi dan Literatur Hadis, ( Jakarta: Lentera, 1997), 119.

[20] Yasin Duton, Asal Mula Hukum Islam: Al-quran, Muwatta’, dan Praktik Madinah, 46-48. sumber lain menyebutkan bahwa kitab al-Muwatta’ pernah diterjemahkan ke beberapa bahasa dalam edisi yang berlainan, lihat Rubrik Tokoh Muslim, Imam Malik, (25 Oktober 2007).

[21] Malik bin Anas Abu Abdillah al-Asbahî, Muwatta’ al-Imam Malik, (Mesir: Dar Ihya al-Turāsh al-Ihya al-‘Arabi, t.th), 67-99.

[22] G.F. Haddad, Imam Malik, (25 Oktober 2007).

[23] Malik Ibn Anas Abu Abdilah al-Asbahi, Muwatta’ al-Imam Malik, 7.

[24] Pendifinisian sunah terdapat perbedaan dari masing-masing ulama, baik ulama ushul, ulama fikih, maupun ulama akidah. Lihat , Falah Ibn Muhammad al-Shagir dan Muhammad Ibn Yahya al-Yahyawi, Ulūm al-Qur’ān wa al-Sunah, (t.tp, Dar Ashbiliyā, tt), 101-102.

[25] Yasin Dutton, Asal Mula Hukum Islam: Al-quran, Muwatta’, dan Praktik Madinah, xvii. Lihat juga, dalam Wikipedia, Imam Malik, (25 Oktober 2007).

[26] Abdullah Ahmed An-Na’im, Dekonstruksi Syari’ah, terj. Ahmad Suaedy dan Amirudin Ar-Rany, cet. IV, (Jogjakarta: LKIS, 2004), 24.

[27] Jalaluddin Rahmat, Dahulukan Akhlak di atas Fiqih, (Bandung: Mizan, 2007), 189-190.

[28] Joseph Schacht, Pengantar hukum Islam, terj. Joko Supomo, (Jogjakarta: Islamika, 2003), 28.

[29] Marshall G. S. Hodgon, The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, terj. Mulyadhi Kartanegara, buku kedua, (Jakarta: Paramadina, 2002), 116-117.

[30] Abdullah Ahmed An-Na’im, Dekonstruksi Syari’ah, 44.

[31] Joseph Schacht, Pengantar hukum Islam, 92.

[32] Ibnu Rushdi, Bidāyatul Mujtahid wa Niihāyatul Muqtasid, (Kairo: Dar el-Kutub al-Ilmiyah, 2002), 229-255.

[33] Depag, Al-Qur’an dan tarjamahnya, h. 391

[34] Sayyed Hussein Nour, Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Bandung: Mizan, Cet I, 2002, h. 10

[35] Hasbullah Bakri, op.cit., h. 57

[36] Ali Abdul Halim Mahmud, Fikih Responsibilitas Tanggung Jawab Muslim dalam Islam, Jakarta: Gema Insani, Cet. Ke-2, 2000, h. 52

[37] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 80

[38] Ibid, h. 132

[39] Ibid , h. 128

[40] Teungku Muhammad Hasby Asy shiddiqi, Pengantar Ilmu Fiqih, Semarang : PT. Bulan Bintang, 1989, Cet ke-6, h. 178

[41] Teungku Muhammad Hasby Asy shiddiqi, Pokok – Pokok pegangan Imam Madzhab, Semarang : PT Pustaka Rizqi Putra, 1997, cet ke-1, h.209

[42] Ibid. h. 209

[43] Depag, Al-Qur’an dan Tarjamahnya., h. 128

[44] Ibid, h. 132

[45] Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Us}u l Fiqh, Semarang : Dina Utama, 1994, cet ke-1, h. 60

[46] Al-Syatibi, Muwa faqa t fi Us}u l al-Ah}ka m, Jilid 4, Beirut: Darul al Kutub al Alawiyah, t.th., h. 41

[47] Teungku Muhammad Hasbi As Siddieqy, Pokok – Pokok pegangan Imam Madzhab., h. 212

[48] Teungku Muhammad Hasbi As Siddieqy, Ibid, h. 213

[49] Ibid , h. 104

[50] Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Us}u l Fiqh., h. 110

[51] Abi Ishaq Ibrahim bin Musa, op.cit., h. 118

[52] Yusuf al Qardhawi, Fiqh Praktis bagi Kehidupan Modern, Jakarta: Gema Insani, Cet. I, 2002, h. 71-72

[53] Hasbi As Siddieqy, op.cit., h. 214-215

[54] Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Us}u l Fiqh., h. 116

[55] Teungku Muhammad Habsi Asy-Syiddieqy, Teungku Muhammad Habsi Asy-Syiddieqy, Pokok – Pokok pegangan Imam Madzhab, h.222

[56] Ibid, h.277

[57] Ibid , h. 229-230

[58] Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Us}u l Fiqh., h. 723

[59] Ibid , h. 127