artikel

PEMBAHASAN
ETIKA BISNIS ISLAMI

A. Pendahuluan

Etika merupakan pengkajian soal moralitas atau terhadap nilai tindakan moral, istilah ini juga digunakan menunjukan sistem atau kode etik yang dianut. Etika dalam Islam lebih dikenal dengan akhlak (budi pekerti atau kelakuan), kata akhlak dalam al-Qur’a>n ditemukan bentuk tunggalnya dalam surah al-Qalam ayat 4, yang berbunyi:
وانك لعلى خلق عظيم

Sesugguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung (QS. Al-Qalam (68): 4)

Kata akhlak juga ditemukan dalam hadis-hadis Nabi, yang paling popular adalah,
انما بعثت لأ تمم مكارم الأخلاق
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Pengertian tersebut menjelaskan bahwa akhlak (etika) manusia sangatlah beragam, antara lain adalah nilai kalakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk. Sedangkan bisnis adalah sebagai pertukaran barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat, menurut Anoraga dan Soegiastuti bisnis memiliki ma’na dasar sebagai “the Buying and selling of goods and services”, dalam realitasnya, baik bisnis sebagai aktivitas maupun sebagai entitas, telah ada dalam sistem dan strukturnya yang baku. Bisnis berjalan sebagai proses yang menjadi kegiatan manusia sabagai individu atau masyarakat yang dilakukan sejak bangun pagi hingga tidur kembali, hal ini bertujuan untuk mencari keuntungan dan memenuhi keinginan serta kebutuhan hidup.
Realitas yang ada, etika dan bisnis dipahami sebagai dua hal yang terpisah bahkan tidak ada kaitannya. Jika ada korelasinya dipandang sebagai hubungan negatif, dimana praktek bisnis merupakan kegiatan yang bertujuan mencapai laba sebesar-besarnya dalam situasi persaingan bebas. Apabila etika diterapkan diterapkan dalam dunia bisnis dianggap akan mengganggu upaya pencapaian bisnis tersebut. Sehingga memunculkan beberapa gagasan untuk mewujudkan etika bisnis secara Islami.
Bisnis Islami dapat diartikan sebagai serangkaian aktifitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan hartanya (aturan halal dan haram). Etika bisnis secara Islami menurut al-Qur’a>n selanjutnya dijelaskan dalam sub bab berikutnya secara detail. Dengan menggunakan kata kunci sebagai berikut:
Terma-terma yang berkaitan dengan bisnis maupun etika, diantaranya adalah:
No. Kata Kunci Surat Ayat Keterangan
1. البيع Al-Baqarah, al-Jumu’ah 275, 9 Jual-Beli
2. عن تراض al-Baqarah; an-Nisa>‘ 233; 29 Suka sama suka (kerelaan keduanya)
3. تجارة Al-Baqarah, An-Nisa>‘, al-Fa>t}ir, as-S{a>f, dan al-Jumu’ah 282; 29; 29 10; 11 Perdagangan atau Perniagaan
4. اشترى At-Taubah 111 Membeli
5. تداينتم Al-Baqarah 282 Bermu’amalah
Terma-terma yang berkaitan dengan kejujuran dan keadilan dalam etika bisnis Islami.
No. Kata Kunci Surat Ayat Keterangan
1. بالقسط Ali ‘Imra>n; an-Nisa>‘; al-Ma’idah; al-An’a>m; al-A’ra>f; Yu>nus; Hu>d; al-Rah}ma>n; al-Hadi>d. 18,21; 127, 135; 8,42; 152; 29; 4, 47, 54; 85; 9; 25 Berbuat adil, menegakkan keadilan
2. تقسطوا An-Nisa>‘; al-Mumtah}anah 3; 8 Berlaku adil
3. أقسط Al-Baqarah; al-Ah}za>b 282; 5 Lebih adil
4. أقسطوا Al-H{ujura>t 9 Berlaku adillah
5. القاسطون Al-Ji>n 14&15 Menyimpang dari kebenaran
6. القسط Al-Anbiya>’ 47 Tepat
7. المقسطين Al-Ma’idah; al-H{ujura>t; al-Mumtah}anah 42; 9; 8 Orang-orang yang adil
8. بالقسطاس Al-Isyra>’; as-Syu’ara>’ 35; 182 Dengan benar
9. بالعدل Al-Baqarah; an-Nisa>‘; an-Nah}l; al-H{ujura>t 282; 58; 76, 90; 9 Dengan adil/ Benar
10. وعدلا Al-An’a>m 115 Benar/adil
11. فاعدلوا Al-An’a>m 152 Berlaku adil
12. اعدلوا Al-Ma’idah 8 Berlaku adillah
13. فعدلك Al-Infit}a>r 7 Seimbang
14. لأعدل Ash-Shu>ra 15 Berlaku adil
15. تعدل Al-An’a>m 70 Menebus
16. ألا تعدل An-Nisa>‘; al-Ma’idah 3; 8 Takut tidak bisa berlaku adil
17. ان تعدلوا An-Nisa>‘ 129, 135 Tidak bisa berlaku adil
18. يعدلون Al-An’a>m 150 Mempersekutukan Tuhan
19. به يعدلون Al-A’ra>f 159, 181 Menjalankan keadilan
20. قوم يعدلون An-Naml 60 Menyimpang dari kebenaran
21. منهاعدل Al-Baqarah 48, 123 Tebusan
22. دواعدل Al-Ma’idah 95, 106 Seimbang
23. أو عدل ذلك Al-Ma’idah 95 Seimbang
24. كل عدل Al-An’a>m 70 Segala macam tebusan
25. دوي عدل At-T{alaq 2 Yang adil
Terma-terma yang berkaitan dengan timbangan dan takaran.
No. Kata Kunci Surat Ayat Keterangan
1. كالوهم Al-Mut}affifi>n 3 Menakar
2. كلتم Al-Isra>’ 35 Menakar
3. اكتالوا Al-Mut}affifi>n 2 Menerima takaran
4. نكتل Yu>suf 63 Sukatan
5. أوفواالكيل Al-An’a>m; al-A’ra>f; Hu>d; asy-Syu’ara>’ 152; 85; 35; 181 Sempurnakan takaran
6. أوف الكيل Yu>suf 59 Menyempurnakan takaran
7. مناالكيل Yu>suf 63 Bekal (gandum)
8. لناالكيل Yu>suf 88 Sempurnakan bekal makanan
9. فلا كيل Yu>suf 60 Bekal
10. كيل بعير Yu>suf 65 Tambahan bekal seberat onta
11. كيل يسير Yu>suf 65 Bekal yang yang mudah
12. المكيال Hu>d 84; 85 Takaran
13. وزنوهم Al-Mut}affifi>n 3 Menimbang
14. وزنوا Al-Isra>’; ash-Shu’ara>’ 35; 182 Timbanglah
15. الوزن Al-A’ra>f; ar-Rah}ma>n 8; 9 Timbangan
16. وزنا Al-Kahfi 105 Penilaian
17. موزون Al-Hijr 19 Ukuran
18. الميزان Al-An’a>m; al-A’ra>f 152; 85 Timbangan
19. الميزان Hu>d 84, 85 Timbangan
20. الميزان Ash-Shu’ara>’ 17 Neraca
21. الميزان Ar-Rahman 7, 8, dan 9 Neraca (keadialan)
22. الميزان Al-Hadi>d 25 Neraca (keadialan)
23. الموازين Al-Anbiya>’ 47 Timbangan
24. موازينه Al-A’ra>f; al-Mu’minu>n; al-Qa>ri’ah 8, 9; 102, 103; 6 & 8. Timbangan

B. Kumpulan Ayat-Ayat Etika Bisnis

1. Ayat Makiyah

Artinya: dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang bermanfaat, hingga ia sampai dewasa dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya dan apabilah kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu, agar kamu ingat. (al-An’a>m: 152)

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang yang merugikan (as-Syu’ara’: 181)

Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. (as-Syu’ara’:182)

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (as-Syu’ara’:182)

2. Ayat Madaniyah

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. (al-Mutaffifin: 1-3)
Hai orang-orang beriman, jangalah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. (al-Nisa’: 29)

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Hasyr: 18)
Supaya kamu jangan melampui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (al-Rahman: 8&9)

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jum’at, maka segeralah menuju zikrullah, dan tinggalkanlah jual beli. Itulah yang baik buat kamu, jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka berteberanlah di muka bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka berbondong-bondong padanya dan meninggalkanmu berdiri. Katakanlah apa yang ada disisi Allah lebih baik dari pada permainan dan perniagaan, dan Allah adalah sebaik-baik pemberi. (Q. S. Al-Jumu’ah : 9-11).

C. Munasabah

Surah ash-Shu’ara>’ ayat 181-183 berkaitan dengan ayat sebelumnya 176-180,

Artinya : Penduduk Aikah telah mendustakan Rasul-Rasul, ketika Shu’aib berkata kepada mereka: “mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan yang diutus kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku dan aku sekali-kali tidak memintak upah kepadamu atas ajakan itu ; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Ayat tersebut menjelaskan tentang kaum Nabi Shu’aib, yaitu kaum Madyan atau Aikah mereka merupakan kaum yang hidup di alam rimba, banyak pohon, tanaman, dan buah-buah-buahan yang subur, mereka telah berbuat curang dalam menimbang dan menakar dangan cara menguranginya, di samping itu mereka telah melakukan kerusakan di muka bumi ini, karena perbuatan mereka yang telah melanggar norma Agama, Nabi Shu’aib memberikan nasihat kepadanya agar tidak melanggar norma Agama, akan tetapi mereka telah berbohong kepada Nabi Shu’aib, kemudian Allah memberikan kerusakan dan siksa pada kaum-Nya.
Surah al-An’a>m ayat 152, berhubugan dengan ayat sebelumnya yang menyebutkan wasiat Allah, yang merupakan larangan mutlak. Ayat ini melanjutkan larangan yang berkaitan dengan harta, setelah sebelumnya pada larangan sebelumnya disebut tentang nyawa. Larangan dalam ayat ini menyangkut harta dimulai dengan larangan mendekati harta kaum lemah, yakni anak-anak yatim. Larangan ini tidak sekedar melarang memakan atau menggunakan, tetapi juga mendakati. Di samping itu juga yang dianjurkan dalam ayat ini adalah menyempurnakan takaran dan timbangan bil qist} yakni dengan adil, sehingga keduanya merasa senang.
Surah al-Mut}affifi>n ayat 1 sampai ayat 3 itu saling berhubungan, yaitu ayat pertama memberikan ancaman bagi mereka yang telah melakukan berbuat kecurangan dalam bisnis yaitu mengurangi timbangan pada waktu menimbang untuk orang lain. Sedangkan ketika mereka meminta timbangan untuk dirinya sendiri mereka minta dipenuhi. Mereka yang berbuat curang dalam timbangan tersebut akan dimasukkan dalam neraka wail.
Surah an-Nisa>‘ayat 29, yaitu larangan memakan harta dengan jalan yang batil (yang dilarang oleh Allah), kemudian Allah memberikan jalan mencari harta yang halal dengan cara melakukan perniagaan. Ia memberikan jalan mencari harta dengan perniagaan, ada norma-norma yang harus dilakukan yaitu dengan suka sama suka (kerelaan kedua belah pihak). Sedangkan surah ar-Rahman ayat 8 dan 9 sangat berkaitan antara keduanya, ayat ke-8 mengatakan supaya tidak melampui batas dalam melakukan timbangan, kemudian Allah memerintahkan untuk menegakkan keadilan dalam melakukan bisnis dengan adil dan dilarang untuk berbuat curang dengan mengurangi timbangan.

D. Sebab Nuzul

Pada saat Rasulullah saw, masuk ke kota Madinah, beliau mengetahui penduduknya terdiri dari orang-orang yang curang dalam menggunakan takaran dan timbangan, karena itu Allah SWT, menurunkan surah al-Mut}affifi>n sebagai ancaman terhadap mereka, setelah turunnya ayat-ayat tersebut orang madinah menjadi orang yang jujur dalam jual beli.
Menurut Imam al-Qurt}uby, Madina merupakan tempat pedagang yang mengurangi timbangan pada waktu itu, mereka menjual muna>badah, mula>masah, dan mukha>d}arah, kemudian Allah menurunkan ayat Mut}affifi>n, setelah itu Rasulullah SAW, berangkat ke pasar dan membacakan ayat tersebut.

E. Tafsir Ayat Etika Bisnis Islami

Menurut prespektif al-Qur’a>n, tanggung jawab individual sangat penting dalam sebuah transaksi bisnis. Setiap individu bertanggungjawab terhadap semua transaksi yang telah dilakukannya. Tidak seorang pun yang memiliki previlage tertentu atau imunitas untuk menghadapi konsekuensi terhadap apa yang dilakukannya, Abu A’la al-Maududi menyatakan bahwa individulah yang paling penting bukan komunitas masyarakat atau Negara, di dalam al-Qur’a>n, hal tersebut merupakan alat pencegah terhadap terjadinya tindakan yang tidak bertanggung jawab, karena setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya baik di dunia maupun di akhirat. Allah menjelaskan dalam surah al-Jumu’ah ayat 9 mengenai perlunya suatu etika dalam melakukan bisnis yang Islami, yang berbunyi :
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jum’at, maka segeralah menuju zikrullah, dan tinggalkanlah jual beli. Itulah yang baik buat kamu, jika kamu mengetahui

Al-Qur’a>n memperbolehkan melakukan bisnis yang halal, akan tetapi jika dikaitkan dengan ayat tersebut kita tidak boleh lupa untuk berbisnis dengan Allah, yaitu melaksanakan perintahnya untuk beribadah Shalat Jum’at, sehingga segala macam interaksi dalam bentuk apapun yang bisa mempengaruhi perhatian shalat Jum’at harap untuk ditinggalkan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara iman dan bisnis bagaikan hubungan akar tumbuhan dengan buahnya. Bahkan ditegaskan al-Qur’a>n, amal-amal yang tidak disertai iman tidak akan berarti di sisi-Nya (bagaikan debu yang berterbangan) وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا).
Untuk menghilangkan kesan bahwa perintah ini dilaksanakan seharian penuh. Sebagaimana yang diwajibkan kepada orang-orang Yahudi pada hari Sabtu. Kemudian Allah melanjutkan dengan ayat selanjutnya;
Apabila telah ditunaikan shalat, maka berteberanlah di muka bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezeki bukan hanya yang mencukupi kebutuhannya, tetapi al-Qur’a>n memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkan dengan fad}l Allah, yang secara harfiah berarti kelebihan yang bersumber dari Allah. Kelebihan tersebut dimaksudkan antara lain agar yang memperoleh dapat melakukan ibadah secara sempurna serta mengulurkan tangan bantuan kepada pihak lain yang oleh karena mereka tidak berkecukupan. Dan ingatlah Allah banyak-banyak dengan selalu bersyukur, jangan sampai kesungguhan kamu mencari karunia-Nya itu melengahkanmu. Berzikirlah (dengan mengucapkan tah}mi>d, tasbi>h, takbi>r, dan istigfar) dari saat ke saat dan di setiap tempat dengan hati atau bersama lidah kamu supaya kamu beruntung memperoleh apa yang kemu dambakan.
Larangan melakukan jual beli, dipahami oleh Imam Ma>lik mengandung makna batalnya serta keharusan membatalkan jual beli jika dilakukan pada saat Imam berkhutbah dan shalat. Sedangkan Imam Syafi’i>y tidak memahaminya demikian, akan tetapi menegaskan keharaman jual beli tersebut. Dengan demikain perintah bertebaran di bumi dan mencari sebagian karunianya pada ayat di atas bukanlah perintah wajib. Kaidah ulama dinyatakan apabilah ada perintah yang bersifat wajib, kamudian dilanjutkan dengan perintah sesudahnya, maka yang kedua itu hanya mengisyaratkan bolehnya hal tersebut dilakukan. Ayat 9 memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menghadiri upacara Shalat Jum’at, perintah yang bersifat wajib. Ayat diatas memerintahkan kaum muslimin untuk menghadiri shalat Jum’at. Tetapi ada sekelompok orang yang tidak memenuhi secara baik perintah tersebut, dan Allah telah mengecam perbuatan mereka, dalam ayat selanjutnya :
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka berbondong-bondong padanya dan meninggalkanmu berdiri. Katakanlah apa yang ada disisi Allah lebih baik dari pada permainan dan perniagaan, dan Allah adalah sebaik-baik pemberi.

Ayat tersebut menjelaskan sikap sahabat Nabi SAW, yaitu Dihyat Ibn Khalifah al-Kalbi yang datang bersama kafilahnya dari Syam, mereka membawa kebutuhan pokok. Ketika itu harga-harga di Madinah melonjak. Genderang tanda kedatangan kafilah di pasar pun ditabu, sehingga terdengar oleh Jama’at Jum’at. Ketika itulah sebagian jama’ah masjid berpencar dan berlarian menuju pasar untuk membeli karena takut kehabisan. Kemudian turunlah ayat ini, ada riwayat yang mengatakan bahwa kejadian tersebut terulang sampai tiga kali dan selalu di hari jum’at. Riwayat berbeda-beda tentang jumlahnya yang bertahan bersama Rasulullah, ada yang mengatakan empat puluh, empat, tiga, atau dua belas orang, bahkan ada riwayat yang mengatakan hanya delapan orang. Perbedaan riwayat inilah yang menjadikan sebab perbedaan ulama tentang jumlah minimal yang harus hadir guna sahnya upacara shalat Jum’at.
Jama’ah yang meninggalkan shalat jum’at pada waktu Nabi menyampaikan khutbah, ada sebagian orang yang bertahan bersama Rasulullah, kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah, ‘apakah perbuatan yang mereka lakukan itu salah (Jam’ah yang meninggalkan Khutbah), kemudian Nabi berkata, “apa yang disisi Allah berupa ganjaran dan anugerah-Nya di dunia dan di akhirat bagi yang tidak tergiur oleh gemerlap duniawi lebih baik dari pada permainan dan perniagaan walau sebanyak apapun dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki karena Allah sumber rezeki. Sedang selain-Nya hanyalah perantara. Allah memberikan rezeki terhadap orang yang bertawakkal, dan orang yang mencari rezeki pada waktu shalat jum’at (kafilah). Serta tidak diharamkan seseorang yang mencari rezeki pada waktu shalat jum’at atau pun mengurangi rezekinya karena sebab meninggalkan shalat.”
Kewajiban dalam melakukan bisnis perlu adanya suatu etika, yang paling utama adalah kepada Allah SWT, yaitu melaksanakan perintahnya seperti apa yang dijelaskan dalam Surah al-Jumu’ah tersebut. Di samping itu perlu diperhatikan juga adalah etika berbisnis dengan manusia. Dalam jual beli manusia harus melaksanakan etikanya, yaitu harus memperhatikan keadilan dalam melakukan transaksi, Allah menjelaskan dalam surah al-Syu’ara>’ ayat 181-183, yang berbunyi ;
Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang yang merugikan. Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan (as-Syu’ara>’: 181-183)

Dan Surah Hu>d ayat: 85, yang berbunyi,
Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kalian merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kalian membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Ayat tersebut menjelaskan antara Nabi Shu’aib dengan kaumnya. Pada awalnya Nabi Shu’aib melarang mengurangi timbangan dan takaran bila mereka memberikan hak orang lain, kemudian Nabi Shu’aib memerintahkan untuk menyempurnakan timbangan dan takaran secara adil, baik disaat mereka mengambil maupun memberi. Setelah Nabi Shu’aib menasihati kaumnya, mereka seakan-akan bertanya:” apakah yang harus kami lakukan?” beliau menjawab: “sempurnakanlah takaran dan yang ditakar bila kalian menakar untuk orang lain, sebagaimana kamu menakar untuk diri kamu sendiri, dan janganlah kamu termasuk salah seorang anggota kelompok yang dikenal luas sebagai orang-orang yang merugikan diri sendiri akibat merugikan orang lain, di samping itu timbanglah untuk diri kamu dan orang lain dengan timbangan yang lurus. Janganlah kalian merugikan manusia pada barang-barangnya (yakni hak-haknya dengan mengurangi kadar atau nilainya) dan janganlah kalian membuat kejahatan di bumi menjadi perusak dalam bentuk apapun sesudah perbaikannya yang dilakukan Allah atau juga oleh manusia. Dan bertakwalah kepada Allah, karena Dia yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang terdahulu yang begitu kokoh dan kuat. Namun mereka pun disiksa dan dipunahkan ketika mereka melanggar perintah-Nya.
Ayat 181 menjelaskan perintah menjual dengan cara menyempurnakan timbangan dan takaran dengan tidak mengurangi hak-hak manusia yang lainnya. Menurut Imam al-Qurt}uby yaitu tidak mengurangi timbangan dan takaran. Akan tetapi dalam melakukan bisnis orang harus melakukannya dengan adil seperti yang tertera dalam surah ash-Shu’ara>’ ayat 182, yaitu apabila sesorang membeli janganlah menambahkan ataupun mengurangi timbangan dan takarannya seperti pada waktu dia akan menjualnya.
Kata تبخسوا terambil dari kata بخس yang berarti kekurangan akibat kecurangan. Ibn ‘Araby mendefinisikan dengan pengurangan dalam bentuk mencela, atau memperburuk sehingga tidak disenangi, penipuan dalam nilai atau kecurangan dalam timbangan dan takaran dengan melebihkan atau mengurangi. Kata القسطاس ada yang memahami dalam arti neraca atau timbangan ada juga dalam arti adil. Kata ini adalah salah satu kata asing dari bahasa Romawi, yang terambil dari kata ديقاس , kemudian dalam bahasa arab diganti dengan sin, sebagian pendapat yang lain diganti dengan huruf shad menjadi قصطاس . Sedangkan kata تعثوا terambil dari kata عثى dan عاث yaitu perusakan atau bersegera melakukannya. Maksud kata ini adalah jangan melakukan kerusakan dengan sengaja. Untuk mewujudkan suatu keadilan dalam melakukan bisnis al-Qur’a>n memberikan jalan untuk melakukannya dengan semampunya tanpa adanya suatu beban, seperti yang dijelaskan dalam surah al-An’a>m ayat 152, yang berbunyi:

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.

Ayat di atas menggunakan bentuk perintah bukan larangan menyangkut takaran dan timbangan واوفواالكيل والميزان بالقسط (dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil) janganlah menambahkan untuk kepentingan diri sendiri, timbanglah dan takarlah dengan sempurna pada waktu menjadi penjual atau pembeli tidak ada pengurangan maupun penambahan di dalamnya. Menurut Ibn ‘Ashu>r ayat tersebut mengisyaratkan bahwa mereka dituntut untuk memenuhi secara sempurna timbangan dan takaran, sebagaimana dipahami dari kata اوفوا yang berarti sempurnakanlah, sehingga perhatian mereka tidak sekedar pada upaya tidak mengurangi, tetapi juga penyempurnaannya. Perintah penyempurnaan ini juga mengandung dorongan untuk meningkatkan kemurahan hati dan kedermawanan untuk sekedar berlaku adil.
Kata القسط mengandung makna rasa senang kedua pihak yang bertranstaksi, bukan sekedar berarti adil, apalagi kalau ada keadilan yang tidak menyenagkan hati salah satu pihak. Qist} bukan hanya berlaku adil, tetapi sekaligus menjadikan kedua belah pihak senang dan rela. Timbangan dan takaran harus menyenangkan kedua pihak, karena ayat tersebut di samping untuk memerintahkan menyempurnakan takaran dan timbangan, tapi juga memerintahkan penyempurnaan itu bi al-qist}, bukan sekedar bi al-‘adl.
Perintah penyempurnaan takaran dan timbangan dilanjutkan dengan kalimat لانكلف نفسا الا وسعها (kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sesuai kemampuannya. Hal ini dikemukakan untuk mengingatkan bahwa memang dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah untuk mengukur apalagi menimbang, yang benar-benar mencapai kadar adil yang pasti. Meskipun demikian, penimbang dan penakar hendaknya berhati-hati dan senantiasa melakukan penimbangan dan penakaran itu semampu mungkin serta melakukannya dengan sungguh-sungguh agar tidak melenceng dari hukum Islam. Allah berfirman dalam surah al-Mutaffifin: 1-3, yang berbunyi:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi.

Surah tersebut menyebutkan salah satu hal yang banyak terjadi dalam hubungan antara manusia yaitu menyangkut ukuran, merupakan dosa besar adalah berkhianat (tidak jujur) dalam ukuran dan timbangan.
Kata ويل (celaka, binasa) wail pada mulanya digunakan oleh pemakai bahasa arab sebagai doa jatuhnya siksa. Akan tetapi al-Qur’a>n menggunakannya dalam arti ancaman jatuhnya siksa, atau dalam arti satu lembah yang sangat curam di neraka. Menurut Imam Qurtuby wail adalah siksa yang sangat pedih di akhirat, dan Ibn ‘Abbas berkata: bahwasannya wail adalah jurang (lembah) yang ada di neraka jahannam di dalamnya mengalir nanah yang bercampur darah ahli neraka. Sedangkan kata مطففين menurut ulama bahasa adalah mereka yang mengurangi timbangan dan takaran, kata tersebut diambil dari kata طف (dekat/sisinya), yang dalam hadith كلكم بنو ادم طف الصاع maksudnya adalah sabagian kalian semua adalah dekat dengan sebagian yang lainnya, tidak ada salah satu dari kalian yang lebih utama melainkan dengan takwa.
Ayat selanjutnya, الناس على, al-Fara’ menafsirkan الناس من (dari manusia), menurut az-Zajaj adalah apabila mendapat takaran dari orang lain mereka memintak untuk dilebihkan, dan apabila menimbang untuk orang lain mereka menguranginya. Ayat tersebut merupakan ancaman kepada semua pihak agar tidak melakukan kecurangan dalam penimbangan dan penakaran, perlakuan semacam ini bukan saja ksecurangan tetapi juga pencurian dan bukti kebejatan pelaku. Menurut Ibn ‘Araby orang yang melakukan kecurangan tersebut seperti mencuri setiap sesuatu, dan mencuri shalatnya yaitu tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Pedahal Allah memerintahkan untuk menyempurnakan timbangan dan takaran, Allah berfirman dalam surah al-Rahman ayat 9, yang berbunyi:
وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Di samping larangan berbuat curang dalam berbisnis serta perintah untuk berbuat adil dalam etika bisnis, selanjutnya Allah memerintahkan untuk sama-sama rela dalam berbisnis, Allah berfirman dalam surah an-Nisa>’ ayat 29, yang berbunyi:
Hai orang-orang beriman, jangalah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.

Ayat إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ , menjelaskan keumuman kemutlakan membolehkan tija>rah secara keseluruhan, Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 275, واحل الله البيع tija>rah diperbolehkan pada seluruh jual beli kecuali yang menunjukkan kepada keharaman, karena kata tija>rah lebih umum dari pada kata bai’, dan tija>rah mengandung akad-akad tija>rah, serta masa terjadinya transaksi. Ayat tersebut menekankan juga keharusan adanya kerelaan kedua belah pihak, atau diistilahkan dengan (‘an taradin min kum), walaupun kerelaan adalah sesuatu yang tersembunyi di lubuk hati, tetapi indikator dan tanda-tandanya dapat terlihat. Ijab dan kabulnya, atau apa saja yang dikenal dalam adat kebiasaan sebagai serah terima adalah bentuk-bentuk yang digunakan hukum untuk menunjukkan kerelaan. Setelah adanya transaksi dalam jual beli, Allah menganjurkan untuk melakukan evaluasi dan plening untuk yang akan datang, hal ini dijelaskan dalam surah al-Hasyr ayat 18, yang berbunyi:
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Hasyr: 18)

Perintah memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok dipahami oleh T{abat}aba’iy sebagai perintah untuk melakukan evaluasi terhadap amal-amal yang telah dilakukan. Ini seperti seorang tukang yang telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia dituntut untuk memperhatikan kembali agar menyempurnakannya bila telah baik, atau memperbaikinya bila masih ada kekurangannya. Kalau baik maka dia dapat mengharap ganjaran, kalau buruk hendaknya segera bertaubat.

F. Hikmah yang dapat diambil
Ayat-ayat yang menjelaskan etika bisnis Islami dapat diambil hikmah hukumnya, yaitu:
1. Kejadian perbuatan curang dalam menimbang dan menakar, itu terjadi pada masa Nabi Shu’aib dan Nabi Muhammad, kaum Nabi Shu’aib berbuat curang dalam menimbang dan menakar dan melakukan kerusakan di bumi, mereka diingatkan oleh Nabi Shu’aib untuk tidak melakukan perbuatan tersebut dan mengatakan pada mereka فاتقواالله واطيعون , akan tetapi mereka melakukan penghinaan kepada Nabi Shu’aib, sehingga Allah memberikan adab kepada mereka semua atas perbuatan yang dilakukannya. Sedangkan umat Nabi Muhammad yang ada di makkah dan madinah telah melakukan kecurangan seperti halnya kaum Nabi Shu’aib, setelah Nabi mengetahui apa yang terjadi pada saat itu, kemudian Nabi menyampaikan ayat mengenai siksaan (surah al-mut}affifi>n) kepada mereka yang melakukan kecurangan dalam timbangan dan takaran, setelah mendengarkan Nabi Muhammad kemudian mereka bertaubat dan kembali kejalan yang benar.
2. Mengurangi timbangan dan takaran hukumnya haram syar’iy, dan mendapatkan dosa serta siksa yang sangat pedih di akhirat nanti. Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat orang Madinah yang mengurangi timbangan saat berdagang, mereka menjual muna>baz}ah, mula>masah, dan mukha>d}arah. Semua itu merupakan jual beli gharar, misalnya juga jual beli burung di udara.
3. Larangan berbuat curang dalam melakukan bisnis tersebut, Islam mengajarkan untuk berbisnis secara Islami, yaitu: tauhid, adil, ihsan, amanah (jujur), ta’awu>n (kerjasama), fat}anah, tabligh, dan keramahtamahan, dengan terwujudnya bisnis secara Islami maka timbulnya professional yang kompetitif dalam dunia bisnis. Di samping nilai-nilai positif sebagai pegangan, ada nilai-nilai yang harus dihindari yaitu nilai-nilai negatif seperti: H{irs (kerakusan), iktinaz (menimbun kekayaan), syuh} (pelit), z}ulm (penindasan), dan lain-lainnya.
4. Dengan adanya alat untuk menimbang dan menakar, alat tersebut digunakan untuk menegakkan keadilan dan menyempurnakan transaksi.
5. Melakukan evaluasi setiap setelah melakukan bisnis, hal ini dilakukan untuk memeriksa dan menyempurnakan kekurangan atau kelebihan dalam bisnis.

KESIMPULAN
Penjelasan tersebut dapat disimpulkan, bahwa:
1. Dalam etika berbisnis Islam yang pertama adalah melakukan bisnis dengan Allah yaitu melaksanakan aturan-aturan agama yaitu tidak meninggalkan shalat.
2. Allah melarang mereka yang melakukan kecurangan dalam berbisnis, dan perbuatan tersebut haram syar’i. Islam mengajarkan untuk berbisnis secara Islami, yaitu: tauhid, adil, ihsan, amanah (jujur), ta’awu>n (kerjasama), fat}anah, tabligh, dan keramahtamahan, dengan terwujudnya bisnis secara Islami maka timbulnya professional yang kompetitif dalam dunia bisnis. Di samping nilai-nilai positif sebagai pegangan, ada nilai-nilai yang harus dihindari yaitu nilai-nilai negatif seperti: H{irs (kerakusan), iktinaz (menimbun kekayaan), syuh} (pelit), z}ulm (penindasan), dan lain-lainnya.
3. Islam memberikan solusi dalam melakukan bisnis, yaitu dengan menggunakan bisnis secara Islami, untuk mewujudkan profesional dan kompetitif.

DAFTAR PUSTAKA

Aby al-Fida>’ al-Ha>fiz} Ibn Kathi>r al-Damasyqy. Tafs>ir al-Qur’a>n al-‘Az}i>m. Beirut: Maktabah ‘Ilmiyah, 1994.
Ah}mad al-Wahidi al-Naisabury. Asba>b al-Nuzu>l. Beirut: Dar al-Fikr, 1991.
Ah}mad al-Ans}ari al-Qurt}uby. Al-Ja>mi’ li al-Ah}ka>m al-Qur’a>n, vol. 13. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
—————. Al-Ja>mi’ li al-Ah}ka>m al-Qur’a>n, vol. 19. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
Ah}mad al-Ra>zy al-Jas}s}a>s}. Ah}ka>m al-Qur’a>n, vol. 2. Beirut: Dar al-Fikr, 1993.
—————. Ah}kam al-Qur’a>n, vol. 3. Beirut: Dar al-Fikr, 1993.
Ahmad Warson Munawwir. al-Munawwir; Kamus Araby-Indonisia. tt: Pustaka Progressif, tt.
Akhmad Mujahidin. Ekonomi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.
Amir Syarifuddin. Garis-Garis Besar Fiqh. Jakarta: Prenada Media, 2003
Anoraga, Soegiastuti. Pengantar Bisnis Modern, Kajian Dasar Manajemen Perusahaan. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1996.
Ibn ‘Araby. Ah}kam al-Qur’a>n. vol. 4. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1988.
Imam Nawawy. S{ah}i>h} Muslim bi Sharh}i al-Nawawy, vol. 10, Beirut: Dar al-Fikr, tt.
‘Izzah Darwazah. al-Tafsi>r al-Hadi>th Tartib al-Surah H{isab al-Nuzu>l, vol. 3 Beirut: Dar al-Garb al-Islamiyyah, 1964
Muhammad H{asan al-H{ams}y. Tafsi>r wa Baya>n Mufrada>t al-Qur’a>n. Beirut: Dar al-Rasyid, tt.
Muhammad Akram Khan. Ajaran Nabi Muhammad Tentang Ekonomi; Kumpulan Hadith-hadith tentang Ekonomi. Jakarta: Institute of Policy Studies Islamabad, 1997.
Muhammad, Alimin. Etika & Perlindungan Konsumen dalam Ekonomi Islam. Yogyakarta: BPFE, 2004.
Muhammad Ismail Yusanto, Muhammad Karebet. Menggagas Bisnis Islami. Jakarta: Gema Insani, 2002.
Muh}ammad Isma>’i>l Ibrahi>m. Mu’jam al-Alfaz} wa al-A’La>m al-Qur’a>niyah. tt: Dar al-Fikr al-‘Araby, tt.
M. Quraish Shihab. Wawasan al-Qur’a>n: Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 2006.
—————. Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’a>n, vol. 2. Jakarta: Lentera Hati, 2007.
—————. Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’a>n, vol. 4. Jakarta: Lentera Hati, 2007.
—————. Tafsir Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’a>n, vol. 15. Jakarta: Lentera Hati, 2007.
—————. Tafsir Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’a>n. vol. 10. Jakarta: Lentera Hati, 2007.
Pius A Purtanto, M. Dahlan al-Barry. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola, tt.
Wahbah Zuhaily. Al-Tafsi>r al-Muni>r; fi al-‘Aqidah wa al-Shari>’ah wa al-Manha>j, vol. 10. Beirut: Dar al-Fikr, 2006.
—————. Al-Tafsi>r al-Muni>r; fi al-‘Aqidah wa al-Shari>’ah wa al-Manha>j. vol. 14, Beirut: Dar al-Fikr, 2006.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: